Jumat, 23 April 2010

Ulipah dan Wulandari : Berburu Koin Perak Di Jalan


Malam ini aku harus keluar, bertelanjang kaki bukan karena aku senang. Tapi karena aku tidak mempunyai sandal karet, sepatu hitamku yang sudah usang harus dijaga sebaik mungkin untukku sekolah agar dapat bertahan paling tidak setahun lagi sampai aku dapat membeli yang baru atau mendapat sumbangan dari tetangga.

Kaki ngilu dan perih karena luka lecet yang kualami, telapakpun terasa gatal dan sakit sesekali. Tidak apa. Aku sudah biasa dengan rasa ini. Perlahan kuberjalan yang kadang-kadang kuberjingkat-jingkat kecil menghampiri rumah dempet nan mungil nan sederhana. Memanggil temanku Wulandari yang sangat pemalu namun galak itu.


Ia sedang berada diambang pintu sambil memeluk gitar mungilnya alias ukulele. Ia membelalakan matanya dan melesat menghampiriku. Menggaetku dan menarikku untuk berlari. Terdengar teriakan dari dalam rumahnya. Sebuah suara parau yang berat dan keras.

Wulandari berteriak padaku, “Cepeeett!! Buruaaaann Ulaaa...!!”


Belum sempat aku rampungkan lamunan karena kejadian itu. Kami sudah tiba dipersimpangan jalan keluar dekat jalan raya besar satu arah. Napas kami berdua menderu-deru bergantian, bahu dan dada kami naik turun tak karuan dengan tangan tertopang diatas lutut. Lelah dan sambil menatapnya atas dan bawah. Ia memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan raut mukanya yang khawatir dan ketakutan.


“Ula..jalan lagi nyok... di sono udeh mule rame.” Wulandari mengajakku.


Ia berjingkat sambil memetik ukulelenya. Aku diam, tidak mengangguk tapi berlari kecil mengikutinya. Kemudian, aku melihat ke atas kearah langit biru tua yang menyisakan jingga sedikit-dikit. Tandanya belum pukul 7 malam. Aku masih mempunyai waktu sedikit untuk menghasilkan beberapa koin, syukur kalau ada beberapa orang yang rela memberikan aku selembar ribuan.


Persimpangan dekat stasiun sudah kujejaki. Wulandari berada dibelakangku sambil mengoceh sendiri atau mungkin menghafalkan lirik lagu yang baru ia pelajari. Kuputuskan untuk mempercepat jalanku dan memutari stasiun atas dan bawahnya. Kuseret kakiku yang perih untuk menaiki tangga satu-satu hingga mencapai puncak stasiun.


Deruan kereta di seberang mengibaskan rambut merah pendek tipisku. Wulandari sudah di samping. Setelah toleh kanan dan kiri, aku berbelok ke kiri. Melangkah ringan sambil memperhatikan keramaian yang ada. Seorang perempuan muda dengan tas punggung menatap kosong ke arah rel, entah apa yang ia pikirkan, matanya sendu dan diam saja tak bergeming. Beberapa ibu-ibu menjinjing tas plastik berceloteh seru mengenai pasar dan barang belanjaannya. Lalu ada seorang kakek duduk dibangku besi panjang yang ramping sedang membaca halaman besar sebuah warta berita, dengan wajah yang sangat serius. Beberapa meter dari situ, sekelompok anak muda menengah atas dengan seragam putih abu-abu, perempuan dan laki-laki tertawa bercanda riang. Dan beberapa diantaranya orang-orang dengan wajah letih sehabis pulang bekerja dengan kemeja kotak-kotak, polos, garis-garis ataupun motif lainnya yang tidak aku mengerti, yang tadi pagi pasti rapi namun sekarang sudah kusut.


Kusapa malu-malu perempuan muda, menghiburnya dengan suara nyaring nyanyian lagu terkini. Ia tersenyum hambar berusaha hangat dan lalu merogoh kantong celananya. Diraihnya dengan susah payah sekeping koin perak dengan angka 5 besar dan dua nol dimukanya. Tangannya mengulurkan koin tersebut, aku meraihnya dengan cepat.


Kericikanku masih mengiringi. “Terimakasih, Kak!” seruku.


Orang demi orang, kelompok berganti kelompok lain kuhampiri, kusambangi, kusapa dan kuhibur dengan beberapa bait lagu-lagu yang kuhafal. Kericikan plastikku yang berwarna kuning kusam, dengan barisan logam-logam besi tipis yang sudah karatan pula serta dihiasi lubang-lubang berbentuk bintang pemberian paman angkatku setia menyertai dan mengiringi. Terkadang kugoyang ia ke atas, kesamping, kupukulkan ketelapak tangan atau paha kurusku. Menyanyi dan bernyanyi dengan nada-nada seasalku, sebisaku. Kadang aku melengking, kadang menyerak parau karena haus dan keringnya kerongkonganku.


Wulandari masih semangat memutari stasiun, memburu koin-koin perak. Perutku berbunyi. Lapar. Tadi siang saja aku baru makan sekali seadanya, sebelum mengayuhkan kaki berbalut sepatu hitam bututku ke sekolah. Rasa takutpun sering menghinggapi dadaku, ngeri jika ditagih hutang bayaran sekolah. Ah, aku tinggal menunduk saja jika ditanya ibu guruku dan diam sambil menggeleng.

Bapak dan ibu sedang di rumah malam ini. Mereka sedang tidak enak badan. Bapak sedang sepi orderan mengangkut barang. Mobil bak yang sudah butut, reot dan karatan miliknya, terparkir di tanah kosong yang kering dengan tangki bensin kosong belum terisi. Tapi, meskipun mereka ada pekerjaan, sudah jadi rutinitas wajibku keluar sore hari sehabis pulang memburu koin-koin perak dengan nyanyian sejak 2 tahun lalu.


Lalu teringat kakak-kakak dan adik-adikku yang banyak tersebar dimana-mana. Mereka tidak tinggal lagi bersamaku. Entah dimana, aku tidak tahu. Tujuh tahun yang lalu, rumahku ramai sekali isinya. Bahkan kami tidur berdesa-desakan dalam satu kamar. Perlahan-lahan mereka pergi satu persatu saat sudah seumurku sekarang.


Aku pernah mendengar Bapak berkata kepada Ibu, bahwa itu yang terbaik. Beberapa diantaranya dijemput oleh paman angkatku dengan mobil minivan berbentuk seperti kapsul hijau lumut. Sementara sebagian dari kakak-kakakku diantar oleh Bapak. Entah, dibawa kemana. Aku tidak pernah berani menanyakan ini pada orangtuaku.


Perutku berbunyi nyaring lagi. Seakan berseru dan berteriak minta diisi makanan yang berat hingga kenyang. Saatnya bergerak kembali.


Aku berlari kearah Wulandari. Berseru padanya agar segera pergi dari stasiun, berpindah tempat ke area pedagang kaki lima menjajakan masakannya dekat museum planet. Kami melompati anak-anak tangga stasiun, melesat keluar melewati pedagang-pedagang keranjang rotan dan bunga-bunga yang sepi pelanggan. Sebagian sedang menutup gerainya. Terus melesat tanpa melihat kanan kiri. Menyebrangi persimpangan ke arah restoran cepat saji dengan logo kartun seorang kakek gemuk dengan senyum lebar. Kaca-kaca besar bening memagari ruang restoran. Terlihat jelas kursi-kursi besi hitam dan meja besi kelabu beralas putih di atasnya sebagian penuh diduduki orang yang sedang nikmat menyantap ayam goreng tepung dengan tangan mereka. Sinar-sinar lampu berwarna merah putih dan kuning aksen dari logonya meriahkan suasana monoton di dalam restoran.


Berjalan pelan dan berjongkok di sudut trotoar kasar berbatuan yang mencuat lepas setengah badan dari tanahnya. Menghitung perlahan satu persatu koin dan lembaran biru hasil dari menjelajahi stasiun. Masih kurang untuk diberikan kepada orang tua kami berdua. Masih kurang untuk mencukupi makanan di rumah meskipun sederhana. Dan, masih jauh dari makanan mewah enak untuk dinikmati bersama-sama di rumah. Mungkin butuh waktu lebih dari sebulan mengumpulkan koin perak dan lembar biru untuk bisa makan mewah sekali saja.


Wulandari, sahabatku. Menghentakan kakinya kesal. Lalu mengerang. Ia mungkin marah, tapi mungkin juga takut pulang dengan uang tipis ditangan. Ditambah rasa lapar yang mendera kami berdua. “Jalan lagi yok, lan! Kita kesana aja!” bujukku.


Kerikil dan bebatuan tajam menyiksa telapak kaki kanan-kiriku. Tak kugubris, lebih penting rasa lapar dalam perutku yang sudah terasa perih sedari tadi. Sesekali aku menelan pelan ludah dalam mulutku. Melihat orang berpasangan makan, sekelompok mahasiswa makan dan tukang nasi goreng gerobak yang mengaduk dan menyerokan masakannya. Kutelan lagi ludah dengan susah, haus dan lapar. Harum bawang semilir menyentuh lubang hidungku dan kemudian menyusup ringan. Membuatku semakin keroncongan.


Wulandari menatap kosong kompor dan wajan besar dengan gagang kayu panjang disamping gerobak si tukang nasi goreng. Sepertinya ia berharap bisa mendapat setengah porsi saja dari si abang.

Kutarik ia jauh-jauh dari gerobak. Kuajak ia bernyanyi bersama, menghibur beberapa orang yang sedang duduk bersila, lesehan di atas trotoar lapang depan papan-papan bergambar yang mencuat tinggi ke atas.


Dua koin masuk kantungku, dua lagi masuk kantong Wulandari. Satu koin kuraih dari seorang pemuda dengan kemeja santai. Selembar halus namun garing berwarna biru kulipat dalam genggaman lalu kumasukan dalam kantung. Wulan menerima dua lembar lusuh yang ia sisipkan dalam saku celananya yang ada robekan kecil membentuk lubang pada bagian depannya.

Berjalan lagi. Menghampiri lagi. Satu orang dua orang. Kelompok muda campur-campur. Ah, sepi sekali malam ini. Aku masih merasa lapar. Lebih baik kami menuju arah rumah saja, jika masih ada orang kami akan minta izin bernyanyi. Sampai ujung jalan lalu pulang saja. Begitulah rencananya.

Dari jauh kupandang, seorang perempuan dan lelaki duduk berhadapan menunggu pesanannya. Sesekali mereka berbalas pantun, pantun pendek-pendek. Mereka lapar sepertiku. Mereka lelah seperti aku juga. Kudatangi saja mereka, tampaknya mereka baik. Aku baru menyanyi sedikit. Tapi aku langsung ditolak, sepasang itu memberikan tanda tidak mau memberi sekepingpun.

Di rumah aku diajari, harus bertahan sampai dikasih. Beri muka memelas. Aku melemaskan otot-otot diwajah. Memberikan sinar mata sayu dan berharap sambil berkata, “Aku laper om..Mau makan om..” rayuku.


Si perempuan menanggapiku dengan pertanyaan, “Kamu lapar? Mau makan?” aku mengangguk. Perempuan itu mengajak makan bersama mereka, si lelaki tersenyum tipis padaku namun hangat rasanya.

Kuminta nasi goreng dengan es teh manis. Si lelaki tampaknya pendiam. Pasangannya mengajakku berbicara, bertanya banyak tentang diriku, namaku, rumahku, orangtuaku, sekolahku, kerjaanku, cita-citaku dan kapan terakhir aku makan
.

“Nama kamu siapa?” tanya perempuan itu.

“Ula” jawabku.

“Nama panjang kamu siapa sayang?” lanjutnya lagi.

“Ulipah” sahutku pelan, malu-malu.

“Lucu sekali!” seru perempuan itu. Lalu ia berkata, “Jadi nama kamu Ulipah, tapi dipanggilnya
Ula, ya?”

Dan aku mengangguk pelan.


Aku ingin bercerita banyak, tapi mulutku terasa seperti dijahit. Sulit sekali untuk kubuka dan berkata banyak. Pertanyaan-pertanyaannya kujawab dengan satu potong dua potong kata saja. Dalam hatiku berkata, apakah besok kamu ada di sini lagi tante?


“Terus, kalau kamu sudah besar nanti mau jadi apa Ula?” Perempuan itu tetap berusaha mengajakku mengobrol.

“Suster” jawabku singkat sambil memalingkan muka darinya. Aku takut dicela dengan jawaban dan keinginanku untuk menjadi suster. Dokter katanya untuk laki-laki saja. Tapi, buatku suster mempunyai keistimewaan tersendiri.


Wulandari memperhatikanku dari jauh. Menatap dalam seakan minta diajak. Aku malu dan aku takut. Ingin aku mengajaknya, tapi aku tidak berani meminta pada pasangan itu. Aku takut mereka menolak permintaanku. Aku diam saja, berusaha memalingkan pandangan dari wajah sahabatku yang cantik itu, tidak tega rasanya.


Si perempuan itu membaca gelagat Wulandari sepertinya. Ia berbisik pada si lelaki, pasangannya, yang bermata sipit dengan pipi tembam. Si lelaki menoleh ke belakang, melihat sahabatku. Lalu menoleh kembali ke si perempuan sambil berkata, “Ajak aja..” Si perempuan memanggil sahabatku, Wulandari malah memalingkan wajah karena malu. Menolak untuk duduk dan makan bersama kami.


Perempuan bertanya padaku nama sahabatku itu yang malu-malu tapi mau. Lalu memanggil, “Wulandari, ayo makan..yuk! Jangan takut..Ayo duduk disini” sambil menunjuk bangku kosong dihadapanku. Akhirnya aku berani mengajaknya setelah melihat reaksi positif pada sahabatku itu. Tetap tidak mau tapi masih menatapi mejaku.


Makananku datang. Aku lapar. Lapaaaarr sekali! Kuambil sendok dan garpu, tidak pernah aku memakainya. Tidak pernah ibu dan bapak mengajariku cara memakainya. Ah, yang penting aku bisa memasukan nasi gorengku ke dalam mulut. Kupegang saja asal-asalan sepasang alat makan itu. Kugenggam saja sendok di tangan kiriku dan garpu di tangan kananku. Lalu perempuan itu membenarkan posisi sendok dan garpuku. Ia bilang kalau aku terbalik memegangnya.


Wulandari mencuri pandang ke arahku. Aku mengajaknya dengan ayunan tangan kurusku. Dia tetap menggelengkan kepalanya. Ia tidak lapar atau benar-benar malu ya?


Sekelompok anak muda menyanyi-nyanyi riang dihadapanku. Mencemoohku. Menggodaiku. Sering kali mereka menggangguku dan Wulandari. Kami sering disiram dengan air jika melewati mereka. Aku menjulurkan lidahku. Senang tetapi kesal. Kesal karena diejek terus menerus dan senang karena bisa makan enak di depan mereka.


Akhirnya, Wulandari ditawari lagi untuk makan. Namun kali ini ia ditawari untuk dibungkus saja makanannya dan dibawa pulang. Kali-kali dia malu makan bersama pasangan itu. Syukurlah, ia mengangguk setuju. Tidak lagi menolak tapi masih tetap malu-malu dan menjaga jarak. Sungguh senang rasanya. Aku melahap cepat dan khusyuk makananku. Kusikat sampai licin. Sampai butir nasi terakhir. Saat sesuap sendok terakhir, aku sambil berharap dalam-dalam seandainya besok aku mengalami hal yang serupa lagi.


Saat selesai sudah, aku mengucapkan terima kasih kepada si om. Yah, ia laki-laki. Pasti ia yang membayari semuanya. Aku langsung berlari menjauh. Dari arah utara si perempuan itu dan membelakangi si om, aku melambaikan tangan pada yang perempuan.


***
Kriingg...Kriinngg...!!
Bunyi bel dipintu masuk menyadarkanku. Aku menguap lebar, sambil membukakan pintu masuk. Seorang rekanku dari lantai dasar memberitahuku untuk menyiapkan kamar dan kasur. Ada yang harus dirawat malam itu.


Aku berjalan lemas disepanjang lorong sambil membawa papan daftar pasien dan kamar yang terisi. Aku melamun, rupanya tadi aku tertidur sebentar langsung mengalami mimpi yang sangat panjang. Kembali ke masa kecilku. Kembali pada malam biru tua berhias jingga disana-sini.

Kubuka daun pintu kamar, dan menyiapkan seprai, selimut serta bantal empuk. Sebentar lagi sang pasien akan datang. Aku hanya ingin setiap pasien merasa nyaman walaupun sakit. Hari ini giliranku jaga malam. Hanya bertiga saja dengan suster-suster yang lain dilantai 5 ini. Mereka sedang berkeliling.


Aku menatap kearah luar jendela. Mencoba mengingat mimpiku, mengingat masa kecilku yang suram dan miskin. Lalu bayangan sahabat kecilku muncul dalam benak. Wulandari. Seorang anak perempuan dengan mata besar, kaki lincah dan gayanya yang pemalu sambil memetik ukulele berwarna birunya yang ia beli dengan amat susah payah menabung. Kami sudah terpisah belasan tahun lamanya. Seperti apa dia sekarang? Dimana dia? Jadi apakah dia sekarang? Pikiranku mengembara, mencoba membayangkan akan diri dan hidupnya yang sekarang.

Suara roda sayup-sayup menggelinding dari arah lorong yang lama kelamaan menjadi semakin nyaring terdengar. Sebuah tempat tidur beroda dari ruang gawat darurat mengangkut seorang perempuan tua setengah baya. Dengan selang pernapasan menempel dihidungnya. Perempuan tua itu memejamkan matanya. Seorang lelaki tua bermata sipit dengan pipi kendur kearah bawah menemaninya dan menggenggam tangan perempuan tua itu. Menatapi perempuan tua yang terbujur lemas dengan penuh kasih sayang dan raut khawatir.


Paginya, aku pulang kerumah. Membersihkan badan dan memberesi beberapa barang dalam kamar asramaku. Kemudian tidur pulas hingga sore hari. Setelahnya aku bersiap kembali ke Rumah Sakit. Berjalan kaki sambil membawa bekal makanan untuk makan malamku.

Setelah berganti pakaian putih-putih seragam dinasku dan mengaitkan pin panjang bertuliskan namaku. Aku naik ke atas. Ke area kerjaku. Membereskan arsip-arsip pasien. Kemudian keliling kamar perkamar, memeriksa keadaan pasien. Mencatat keperluan dan perkembangan mereka. Memeriksa detak jantung, tekanan darah dan bahkan mengambil darah beberapa pasien untuk diperiksakan ke laboratorium.


Kemudian, aku kembali ke mejaku didepan. Menyusun laporan malam ini. Jam jenguk sudah habis, hanya tersisa pasien dan beberapa orang kerabat dari pasien yang menemani. Kunyalakan televisi berlayar mini diatasku.

Menyaksikan sebuah tayangan drama yang disiarkan. Kukecilkan suara televisi dan menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.


Perlahan kutertidur tegak.


Kriing..kriinng..!! Bel kembali berbunyi seperti kemarin malam. Rekanku dari ruang rawat intensif memberitahu ada perpindahan pasien ke kamar rawat biasa. Seperti biasa aku menyiapkan kamar untuk pasien hingga senyaman mungkin. Setelah beres, aku menelpon ke lantai bawah. Memberitahu kamar sudah siap. Hanya dalam waktu 10 menit saja, pasien yang dimaksud sampai ke lantaiku.


Selang pernapasan menempel dihidung pasien perempuan muda berwajah pucat dengan beberapa lebam biru pada bagian kantong mata, pelipis serta bibir yang bengkak, serta tangan kiri berbalut perban tebal yang keras dan dua kantong infus menggantung diatas tiang tempat tidur beroda.

Wajah itu tampak pernah kulihat disuatu tempat. Sangat akrab sekali buatku. Dalam sekejap aku terkesiap, terkejut dan sangat kaget. Baru tersadarkan, pasien perempuan muda itu, sahabat kecilku, Wulandari. Air mata menetes perlahan diatas pipi dan aku gemetar sekujur tubuh.

Tebet, 17 Oktober 2009.

(Shera Pringgodigdo)

diambil dari Notes Facebook milik Shera

Rabu, 14 April 2010

Senjakala Dunia Pariwisata Tanjungpinang



By : Trisno aji putra


INILAH senjakala dunia pariwisata Tanjungpinang. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Tanjungpinang, terjadi penurunan angka wisatawan yang signifikan sejak tahun 2002 lalu.
Sepanjang 2004, angka kunjungan wisatawan asing ke Tanjungpinang mencapai 174.038. Lalu 2005, turun menjadi 141.339, dan turun lagi pada tahun 2006 menjadi 130.021. Dan tahun 2007 ini, seperti sudah bisa ditebak, terjadi lagi penurunan. Sampai pukul 14.00 WIB 31 Desember sore, Ketua PHRI Tanjungpinang Rudy Chua menjelaskan bahwa angka kunjungan belum sampai 120 ribu orang.
Mungkin, Anda yang sempat menikmati hidup di Tanjungpinang pada sekitar 1992-2002 lalu masih ingat, betapa surganya kota kecil ini bagi wisatawan asing. Apalagi pada dekade 1990-an, para backpacker, petualang dari seluruh kolong jagat, menjadikan Lorong Bintan sebagai daerah yang wajib mereka singgahi dalam traveling mereka dari Asia menuju Australia, ataupun sebaliknya. Lalu penghujung 1990-an, giliran wisatawan Singapura dan Malaysia yang mengembangkan budaya weekend saban minggu dengen plesiran di Tanjungpinang.
Bahkan saking seringa mereka berkunjung ke Tanjungpinang, tidak sedikit dari wisatawan itu yang akhirnya menikahi perempuan-perempuan yang mereka temukan di Tanjungpinang. Ringgit dan dolar Singapura pun mereka hamburkan saat menikmati Sabtu dan Minggu di Tanjungpinang.
Tapi itu dulu. Semua kisah surga pariwisata itu berhenti ketika pendulum waktu sampai pada 2002. Terakhir, angka kunjungan wisatawan asing tahun 2002 mencapai 197.508 orang. Sebelum 2002, angkanya jauh lebih tinggi, bahkan bisa melampaui di atas 250 ribu jiwa pertahunnya.
Rudy Chua yang juga pengelola beberapa hotel di Tanjungpinang ini masih ingat betul bagaimana pada era 1992-2002, seluruh kamar hotel terisi penuh tiap penghujung minggu. Bahkan tidak ada kamar yang diistirahatkan oleh pengelola hotel. Padahal jumlah kamar hotel di Tanjungpinang saat itu mencapai angka sekitar 1300 kamar. Bagi yang punya modal besar, mereka bangun hotel berbintang, sementara yang modal pas-pasan, membangun hotelk melati. Dunia perhotelan menmggeliat karena terimbas dari tingginya angka kunjungan wisatawan asing.
Tapi mari kita simak lagi data PHRI Tanjungpinang 2007. Bila pada masa emas 1992-2002 itu, dari 1300 kamar hotel, 90 persennya diisi oleh wisatawan asing dan 10 persennya lokal, kini justru terbalik. Hanya sepuluh persen wisatawan asing yang singgah di Tanjungpinang dan menginap di hotel. Sementara 90 persennya lebih mengandalkan tamu lokal. Untunglah pusat pemerintahan Kepri di pindah ke Tanjungpinang, sehingga banyak tamu lokal yang datang ke kota ini danmenginap di hotel. Selain itu, pengelola juga menyediakan jasa ruang pertemuan yang sering dipakai oleh Pemda untuk mengelar acara. Itu strategi mereka bertahan hidup saat ini. Selebihnya, tidak ada.
Maka dalam refleksi akhir tahun dunia pariwisata Tanjungpinang ini, PHRI menurut Rudy terus berharap ada mukjizat di tahun 2008. Mukjizat bukan untuk mengembalikan kejayaan dunia pariwisata Tanjungpinang seperti era 1992-2002. “Kalau penurunan angka kunjungan wisatawan asing ini bisa dihentikan, itu sudah lebih dari cukup,” kata Rudy berseloroh. Artinya, ia melihat, memang terlalu muluk untuk melihat Tanjungpinang akan dibanjiri wisatawan lagi, seperti pada era 1992-2002. Jadi, bisa dihentikannya laju penurunan angka kunjungan wisatawan tahunan saja, menurut Rudy sudah bisa membuat pengelola dunia pariwisata merasa cukup senang.
Rudy berusaha menghitung angka kasar, berapa besar kerugian yang harus diterima oleh Tanjungpinang akibat dari menurunnya angka kunjungan wisatawan ini. Berdasarkan data nasional, satu wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia rata-rata akan menghabiskan dana empat sampai enam juta. “Nah, untuk Tanjungpinang, kita ambil saja angka satu juta rupiah per satu wisatawan asing,” kata Rudy. Berarti, bila terjadi penurunan jumlah wisatawan sampai sekitar 80 ribu orang selang waktu lima tahun terakhir, Rudy menaksir, sudah ada sekitar Rp 80 milyar yang hilang. Itulah potensi dana segar yang lenyap dari Kota Tanjungpinang lima tahun terakhir.

Indonesia di Atas Geladak Kapal


Oleh Ahmad Yunus

Ernest Hemingway, seorang novelis, menulis sebuah kisah ciamik tentang pergulatan seorang lelaki tua dan laut. Novel ini mengisahkan tentang gejolak bathin dan fisik manusia tentang makna sebuah perjalanan hidup. Laut memberikan makna yang luas, kehidupan alam sejati. Tanpa aturan. Tanpa tapal batas.

Lelaki tua, yang menjelang kehidupannya akan berakhir, harus menentukan arah hidup. Ke mana ia akan melangkah setelah kematian tiba menjemputnya. Lelaki tua. Kesendirian. Laut lepas. Memberikan ikatan yang kuat. Sekaligus sebuah kegetiran.
Lelaki tua tak mudah menaklukan laut. Ia terlalu kuat. Dan lelaki tua terlalu ringkih. Bahkan, sampan yang ia tumpangi, terlalu rapuh untuk menahan gempuran ombak. Dan gemuruh badai. Laut dengan mudah menelan sampan dan lelaki tua. Namun, laut juga tahu, kisah perjalanan lelaki tua belum berhenti di sana. Bahkan ketika kematian telah menjemputnya.

Ernest hanya menulis dalam bentuk sebuah novel. Saya tidak tahu, apa kisah “The Old Men and The Sea” adalah tentang dirinya. Dimana, ia menemukan inspirasi ketika memulai novel legendaris itu?

Saya teringat pada perjalanan Fadzham Fadlil. Seorang lelaki paruh baya, berkulit gelap karena terbakar matahari, dan menemukan hidupnya di atas laut. Ia melakukan perjalanan dari New York hingga ke Indonesia. Seorang diri dengan kapal layar.

Kisahnya, petualangannya tak jauh-jauh amat seperti kisah Robinson Crusoe. Dan ia sendiri pengagum kisah petualangan itu. Beberapa kali, laut dan badai hampir menghempaskan kapalnya. Dan cuaca dingin mengakibatkan hemothermia tinggi.
Saya mengenal dia di Bandung. Dan sempat menulis kisah perjalanannya untuk Majalah Playboy Indonesia. Bahkan, dia sempat mengajak saya untuk ikut berlayar. Namun, sampai sekarang belum juga terwujud.

Fadzam Fadlil-akrab dipanggil, Sam- melalui pahit manis perjalanannya itu. Ia menutup sepenggal kalimat dalam buku travelingnya. The last but not least, the journeys more important than the destination it self. Ernest Hemingway dan Fadzham Fadlil, menulis tentang dunia laut, kapal, dan manusia. Sebuah kisah tentang kehidupan.

Wajah dari sebuah perjalanan.Saya, bukan anak yang tumbuh dan dekat dengan laut. Bahkan, gambaran laut dalam benak saya, selalu menakutkan. Dunia yang penuh mitos dan kegetiran. Mungkin, dunia laut hanya cukup dinikmati melalui buku saja. Sambil minum kopi dan kudapan. Namun, perjalanan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa” tak bisa menghindari laut. Perjalanan ini akan memakan waktu delapan bulan. Berkeliling Indonesia ke 100 pulau. Naik sepeda motor.

Kami-Saya dan Farid Gaban-melintasi dari satu pulau ke pulau lainnya. Dan singgah untuk melihat secara dekat bagaimana kehidupan manusia di 100 pulau itu. Kapal, sesuatu yang jarang kami tumpangi, akhirnya menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan saya. Sebuah ruang komunal bersama. Perjumpaan dengan seribu wajah. Bahasa. Etnisitas. Dan segala tetek bengek lika liku kehidupan dalam kapal.

Kisah ini saya temukan dalam kapal perintis. Kapal pabrikan Jepang berkekuatan 900 ton. Namanya, Terigas. Pengelolanya PT. Mitra Nusantara Raya, sebuah perusahaan pelayaran nasional. Ia melayani pulau-pulau kecil. Dari Bengkulu, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Tanjung Pinang, Pulau Terempak, Pulau Midai, Pulau Laut, Pulau Sedanau, Ranai-Natuna, Pulau Subi hingga menyebrang ke Sintete di Kalimantan Barat.

Kapal ini bukan kapal penumpang. Melainkan kapal pengangkut barang. Mulai dari telur, terigu, beras, sabun mandi, minyak goreng, oli, sampai kertas. Namun, entah ide siapa, kapal ini akhirnya menjadi kapal penumpang orang. Di atas geladak kapal terbentang terpal berwarna biru. Mirip acara hajatan di kampung. Penumpang tidur, duduk, berdiri, jongkok, tengkurap, merokok, makan, minum bahkan mungkin pacaran di bawah terpal itu.

Republik ini tak mampu menyediakan sebuah kapal yang nyaman dan bersih. Sekaligus aman, banyak kasus kecelakaan akibat kapal penumpang tenggelam. Kalau lagi banyak muatan, alamak, mendadak geladak kapal seperti pasar. Tua muda. Lelaki perempuan. Anak-anak hingga bayi mungil berserakan macam ikan pindang. Berdesakan dan berebut tempat. Geladak juga penuh dengan dengan barang bawaan penumpang.

Paling menyedihkan adalah perempuan usia muda-tua, ibu menyusui dan tentunya anak-anak. Perempuan tak punya tempat khusus. Mulai dari toilet, kamar mandi, hingga tempat untuk merebahkan badan. Mereka juga sulit untuk naik turun ke atas geladak. Tingginya sekitar satu meter dan sempit. Sisi kiri kanan badan kapal dibatasi pagar besi. Kalau tak hati-hati bisa terkilir atau jatuh ke laut. Jalan sempit ini juga kotor penuh sampah. Terkadang licin akibat muntah penumpang.
Pemandangan terasa pengap. Udara kotor. Banyak debu. Angin laut langsung menerpa wajah. Kalau badai datang, angin terasa kuat dan cukup dingin. Saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib orang yang punya penyakit alergi. Atau terbiasa hidup mapan, naik mobil pribadi, ada fasilitas pendingin ruangan, biasa naik pesawat terbang kelas satu, dan kemudian mencoba mencicipi tidur di atas geladak kapal ini.

Makan mie instant setiap hari, minum kopi dalam plastik, mandi dalam bak air yang keruh, buang hajat di toilet berukuran 1 x 1.5 meter persegi, atau makan ransum gratisan; nasi dengan menu kacang goreng dan satu sendok teri asin. Laju kapal ini seperti siput. Kalau gelombang keras, kapal goyang. Bikin mual. Bau muntah orang terasa menempel di hidung. Juga bau pesing yang datang dari mana.

Hiburan selama perjalanan adalah melihat matahari terbenam. Ini satu-satunya yang menarik perhatian. Kalau cuaca bagus, matahari seperti membakar langit. Lambat laun menjadi siluet. Dan meninggalkan warna emas, kuning dan biru kuat. Rasanya teduh melihat ada orang yang mengaji, suaranya terdengar samar-samar. Mendengar adzan Maghrib menjelang senja. Dan melihat orang yang tengah shalat sambil duduk menghadap kiblat.

Kami melewati kondisi seperti ini selama enam malam tujuh hari. Rata-rata untuk menempuh satu pulau ke pulau lainnya sekitar 12 jam. Setiap singgah sekitar dua hingga enam jam. Menurunkan penumpang, barang dagang, isi air bersih hingga menampung penumpang baru. Dua kali mandi dalam kapal. Dua kali berenang di pantai yang jernih.
Sedih dan pahit melihatnya. Pemerintahan Indonesia tak becus menyediakan fasilitas publik yang benar. Mungkin juga tutup mata untuk urusan seperti ini. Dan lebih penting suka mengobarkan perang terhadap terorisme. Begitu juga dengan media yang sama sekali tidak menjalankan jurnalismenya. Dan melihat isu publik, seperti transportasi laut, kurang penting dan relevan.

Tapi warga republik ini tak punya pilihan. Ini satu-satunya transportasi umum. Kapal ini yang membantu mendorong roda geliat kehidupan di pulau-pulau kecil itu. Mengantarkan penumpang untuk melepas rasa rindu dengan keluarganya di rumah. Memutarkan ekonomi lokal.

Selama perjalanan, tak pernah saya melihat penyelenggara negara yang menggunakan kapal perintis ini. Kebanyakan pedagang dan masyarakat biasa saja. Warga yang biasa bertelanjang dada. Dan membiarkan bulu keteknya dilihat orang. Pedagang yang menjajakan barang dagangannya-jualan kerupuk, jeruk, semangka-. Dan ketika laku, si penjual langsung merapal doa, agar si pembeli rejekinya bertambah dan menjadi sholehah.

Dalam geladak saling bercengkrama, menatap, memberikan senyum dan sentuhan dengan cara sendirinya. Tanpa ada yang mengatur dan memimpin. Ada Jawa. Melayu. Tionghoa. Sunda. Aceh. Seperti keluarga besar. Tak ada prasangka ras, perselisihan agama, maupun perbedaan pandangan politik. Kecuali, waspada agar barang bawaan pribadi hilang atau tertukar. Inilah wajah Indonesia di atas geladak kapal. Rasanya seperti sambal. Kalau dirasakan terlalu dalam bisa mencret dan sakit perut.

Orang macam saya juga tak bisa protes. Apalagi mengeluh minta pelayanan khusus. Cukup melihat. Mendengar. Merasakan sedikit mual. Dan menulis dengan senang hati di atas geladak kapal. Diantara lalu lalang dan gemuruh suara orang yang bercengkrama. Dan jerit tangisan seorang bayi kecil yang merengek. Cukup tersenyum melihat wajah Indonesia yang jauh dari Jakarta. ***

Titik Hitam Natuna


Oleh Ahmad Yunus
Pulau Natuna terletak di bagian paling utara kepulauan Riau. Pulaunya eksotik. Pasirnya putih sepanjang pesisir pulau. Airnya jernih. Gunung Ranai yang hijau menghadap laut. Geliat warga terlihat di sepanjang pesisir. Khususnya di Ranai yang menjadi jantung ibukota pulau ini.
Pulau Natuna termasuk salahsatu pulau terluar Indonesia. Berbatasan dengan Malaysia di bagian barat dan timur. Pemerintahan Indonesia meletakan dua pangkalan militer di Ranai. Angkatan udara dan laut untuk menjaga Natuna dan kepulauan kecil lainnya. Seperti Pulau Laut, Pulau Midai, Sedanau maupun Pulau Tarempak.
“Di sini lebih banyak tentara ketimbang warganya,” kata Sayid Iksanudin, 52 tahun. Sayid, seorang penjual tirai dari Palembang. Dia jualan dari pulau ke pulau. Mulai dari Palembang hingga Pontianak di Kalimantan. Naik kapal kecil hingga kapal perintis.
Kesan Sayid beralasan. Memasuki Kota Ranai, langsung masuk dan melewati kawasan kompleks militer. Melalui pos penjagaan hingga melewati bandara kecil angkatan udara. Banyak slogan, seperti “No Change No Future” atau “Pengabdianku di Perbatasan”. Naik motor tak bisa cepat. Dan tak boleh menggunakan helm tertutup.
Tim Ekspedisi tiba di Pelabuhan Ranai pagi hari sekitar pukul 05.00. Angin laut terasa segar. Badan masih terasa lelah. Perjalanan dari Pulau Laut hingga Ranai agak berat. Angin laut kencang sekali. Hujan turun lebat. Udara terasa dingin. Naik kapal perintis, Terigas 5, tak seperti naik ferry sekalipun. Tidur di geladak dengan penuh barang bawaan. Mulai dari kerupuk, telur hingga beras.
Pelabuhan Ranai termasuk bangunan baru. Jalannya lebar dan beraspal. Tempat parkirnya luas. Aneh rasanya, di sini ada fasilitas akses internet gratis. Sepanjang pelabuhan yang kami lewati tak ada satu pun yang menyediakan fasilitas internet. Di sini koneksi internetnya masih sering putus. Farid Gaban mengecek internet menggunakan laptop. Saya cukup dengan telephone gengam saja.
“Ada penyewaan motor. Satu jam sekitar 10 ribu. Jalan saja ke ujung perkampungan itu,” kata seorang petugas pelabuhan.
Perkampungan ini dihuni sekitar 200 kepala keluarga. Rumah kayu berdiri di atas laut. Jembatan kecil dari papan kayu menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Jembatan ini cukup kuat menahan beban mobil. Toko makanan dan warung kopi berjejer rapi. Di ujung perkampungan ini terletak sebuah dermaga. Ini pelabuhan lama Ranai. Masih tampak kapal-kapal kayu berlabuh.
“Pelabuhan baru mengeruk pasir laut sampai kedalaman empat meter. Air laut jadi naik,” kata Ahong. Dia menjual barang kelontongan dan air galon. Juga menyewakan sepeda motor. Ahong lahir di pulau ini. Ia merasa, pembangunan Natuna belum memberikan berkah bagi warganya. Dari keberadaan pelabuhan baru hingga kekayaan Natuna soal gas.
“Kita masih sulit dapat air bersih. Padahal mata air di gunung masih banyak. Tapi pemerintah di sini tak juga pasang pipa air,” katanya. Sampai sekarang, warga mendapatkan air dari saluran pipa milik angkatan udara. Warga mengambil dengan jerigen. Pipa air tak tersambung hingga ke rumah warga.
Kami jalan menggunakan sepeda motor. Melihat Ranai, dari ujung komplek militer hingga melihat batu-batu besar yang berserakan di bibir pantai. Batu-batu ini tergolong vulkanik. Bongkahannya besar-besar. Kami takjub melihatnya. Alam meletakan batu-batu ini sempurna. Sedap dipandang mata.
Saya sempat berenang di antara batu-batu itu. Menyerupai kolam kecil. Pasirnya putih. Airnya biru muda. Sambil memandang pohon kelapa dan Gunung Ranai. Cantik sekali. Rasanya, keelokan pulau ini lebih sedap ketimbang Bali. Sepi, tak banyak pengunjung. Bisa jadi, ini karena masalah akses dan pengembangan pariwisata yang belum serius.
Akses untuk berkunjung ke Ranai tak mudah. Dari Malaysia malah jauh lebih dekat ketimbang dari Jakarta atau Bali. Akses paling gampang naik pesawat kecil dari Tanjung Pinang, Pulau Bintan. Kalau naik kapal, bisa tiga hari tiga malam, berkemah di atas geladak kapal.
“Kalau musim utara, Ranai jauh lebih berat lagi. Stock beras harus tambah,” kata Ahong. Kapal-kapal merapat. Ombak di laut lepas China Selatan mengamuk. Ini terjadi antara bulan Oktober hingga Februari. Warga, bisa makan ubi dan singkong. Kalau cuaca buruk, stok makanan diterbangkan menggunakan pesawat milik angkatan udara.
Ranai seperti kebanyakan pulau-pulau kecil lainnya. Sangat tergantung dengan keberadaan kota-kota besar di Sumatera, Jawa maupun Kalimantan. Barang sehari-hari mulai dari beras, gula, terigu hingga telur didatangkan dari luar Ranai. Padahal pulau ini tergolong subur. Namun, tanahnya tak menghasilkan sayuran maupun beras. Kebanyakan warganya bekerja sebagai nelayan, pegawai negeri dan pedagang.
Kota Ranai jauh lebih hidup ketimbang tujuh pulau lainnya di wilayah Kabupaten Anambas maupun Natuna. Seperti Pulau Terempak, Midai, Pulau Laut, Pulau Subi, misalnya. Di sini tak ada kawasan industri, Namun Ranai bisa menjadi salahsatu kabupaten terkaya. Bahkan untuk ukuran kabupaten di Indonesia. Ini karena keberadaan eksplorasi gas di laut lepasnya. Pulau ini termasuk salahsatu penghasil gas terbesar di dunia. Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Natuna mencapai 1,7 triliun.
“Natuna memang kaya. Tapi tetap saja kami miskin,” kata Rahmi. Seorang warga tinggal di Kampung Batu Kapal, Natuna. Rumahnya terbuat dari papan kayu. Berdiri di atas air laut. Belakang batu besar yang menyerupai hidung kapal.
Warga bekerja menambang batu alam sebagai sampingan. Mereka memecahkan batu itu menjadi dadu kecil (koral) untuk keperluan beton. Warga mendapatkan tambahan pendapatan. Satu rit senilai 500 ribu. Kebanyakan warga di sini bekerja sebagai nelayan. Mereka menjual ikan murah sekali. Satu ikat ikan laut-terdiri 8 hingga 10 ekor- seharga 10 ribu!
Warga tak punya pilihan untuk menambah pendapatannya. Padahal harga kebutuhan sehari-hari di sini tergolong mahal. Keberadaan batu-batu alam yang eksotik itu menjadi sasaran. Kami sempat melihat satu lokasi penambangan. Becho besar mengeruk tanah untuk mendapatkan bongkahan batu-batu itu.
Menyisakan sisa dan keterancaman kerusakan lingkungan. Satu sisi bukit habis. Bagian sisi lain masih hijau dan bergeletakan batu-batu. Dari atas bukit ini bisa melihat Ranai dan kecantikan alam pesisir Pulau Natuna.
Ada satu sampan kecil yang menarik perhatian saya. Ujungnya lancip. Warna catnya serasi. Ada merah, biru, putih dan hitam. Sedikit ukiran mempercantik lancip sampan itu. Nama sampan ini, Kole. Ini sampan tradisional khas Natuna. Saya bertemu dengan maestro pembat Kole. Namanya, Amar Kandul. Usianya 63 tahun. Ia mendapatkan ilmu membuat Kole dari ayah dan kakeknya.
“Kalau mau mendapatkan uang, bikin saja Kole,” ingatnya. Dari usia 20 tahun ia bekerja untuk membuat sampan ini. Mencari kayu dari hutan. Dan kemudian memahat dan membentuknya menjadi Kole yang cantik itu.
Saat ini, Amar tengah menyelesaikan sebuah perahu. Panjangnya sekitar 15 meter. Lebarnya sekitar 2.5 meter. Dia menghaluskan sebilah papan kayu.
“Saya bekerja sendirian saja. Ini pekerjaan orang susah. Kalau orang kaya, mana mau bekerja seperti ini. Kesenangan itu bersembunyi dalam kesusahan,” katanya.
Proses pembuatan perahu ini bisa selesai dalam waktu dua bulan. Harganya sekitar 15 juta. Ini tergolong murah. Tak mudah mendapatkan kayu yang bagus untuk perahu. Kayunya harus tahan rayap dan kuat menahan lapuk. Pohon-pohon yang ada di Gunung Ranai tak boleh ditebang. Dari pengerjaan perahu ini, ia mendapatkan pendapatan bersih sebesar 5 juta.
“Saya tak menurunkan ilmu pembuatan perahu ini pada anak saya. Tak ada yang berbakat dan saya larang,” katanya.
Usia Amar sudah tua. Dia melihat tak ada penerus yang tertarik dalam pembuatan perahu. Ini menyedihkan, padahal Kole menjadi ikon pemerintahan Natuna. Lambat laun kearifan lokal masyarakat Natuna hilang. Tak ada yang merawat.
Saya tertegun melihat Masjid Raya Natuna. Masjid ini besar sekali. Desainnya bergaya Melayu. Namun ada ornamen Arab. Pintunya melengkung. Ada empat menara menusuk langit. Lantainya keramik. Kesannya, mewah sekali. Ada gedung sekolah tinggi Islam. Gedung komersil dan asrama haji. Sekilas mirip Taj Mahal.
“Masih ada pembangunan tahap kedua,” celetuk seorang petugas pembersih yang bekerja di lorong menara.
Namun, keberadaan masjid sebesar ini meninggalkan keganjilan bagi saya. Terlalu besar dan mewah. Sepertinya masyarakat di Ranai belum memerlukan masjid seluas itu. Menurut warga, pembangunan masjid ini mencapai 800 miliar. Dan selesai dalam waktu dua tahun.
Kontraktornya dari Jakarta. Nama proyek ini, “Natuna Gerbang Utaraku”. Pekerja masjid kebanyakan didatangkan dari Jawa. Termasuk materialnya. Mulai dari tiang-tiang beton, keramik, semen, hingga rumput!
Betapa mahalnya, harga sebuah masjid di kota kecil macam, Ranai ini. Warga masih kesulitan mendapatkan air bersih. Transportasi laut yang layak dan nyaman. Menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal. Maupun mendapatkan perumahan rakyat yang sehat. Rasanya, kekayaan alam dan ladang gas di Natuna belum menjadi berkah bagi masyarakatnya. Masih jauh, rasanya. ***