Pengeras suara yang terdapat pada kabin pesawat terbang itu
kembali berbunyi, diawali dengan bunyi nada,
ting.. tong… ting…..”Diberitahukan kepada seluruh penumpang,.. Dalam
waktu tidak lama lagi pesawat anda
tumpangi, dari Surabaya dengan tujuan
pulau Batam,.. akan mendarat di
Bandara, Hang Nadim Batam, tepat pukul 15.15 wib. Tidak ada perbedaan waktu antara Surabaya dan
Batam,..!” demikian suara merdu yang keluar dari mulut pramugari cantik, saat
pesawat akan landing di Bandara Hang Nadim Batam.
Para penjemput pun sudah antri
menunggu di ruang tunggu bandara, mereka bergegas, begitupun juga, halnya dengan para petugas Bandara, yang sedari tadi
menunggu kedatangan para penumpang dari
berbagai jurusan. Bandara yang digagas
dan dirancang oleh presiden Indonseia ke
III, B.J. Habibie itu. Mereka sudah
bersiap untuk tugasnya masing-masing, dengan sikap stand by pada poskonya
masing-masing.
Para petugas dari pihak intansi pemerintah kota Batam, yang menempatkan pegawai dari Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil mereka bertugas
mengawasi kedatangan, para
pendatang dari daerah lainnya di Indonesia, yang tiba di palau Batam. Hal itu
dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk mencegah peledakan penduduk di
kota Batam, yang menurut pemerintah Kota Batam, akan berdampak pada tingginya
tingkat pengangguran, menekan angka tindak kejahatan, juga menghadang para
gelandangan dan pengemis (Gepeng), serta Pekerja Seks Komersial (PSK), atau
wanita panggilan.
Jadi setiap orang yang datang ke
Batam, akan terlihat sangat kentara sekali, bila dilihat dari status sosialnya. Apakah dia seorang
businessman ?, konglomerat, investor, birokrat, turis. Atau orang dari kampung
yang akan menetap dan pindah ke Batam atau, mungkin penduduk Batam yang sudah menetap lama di
kota yang berdekatan dengan Singapore itu. Tidak dinafikan bahwa pendatang yang
tiba di Batam, seperti halnya cewek-cewek
seksi, yang bekerja pada tempat-tempat hiburan malam di Batam. serta rombongan
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mereka itu mayoritas berasal dari pulau
Madura, Flores, Nusa Tenggara Barat, atau dari pulua Jawa yang akan
berangkat ke Malaysia melalui Batam, lalu menyeberang ke Malaysia.
Para petugas di sana begitu mudah
untuk dapat mengenali mereka, jika
mereka itu rombongan TKI akan sangat terlihat jelas dari penampilan mereka,
biasanya mereka berkelompok, dalam satu
rombongan minimal lima belas orang, atau lebih. Mereka berbaur antara satu
dengan lainnya, baik laki-laki maupun prempuan, gadis remaja, dan anak muda tanggung.
Bahasa Indonesia yang mereka pakai terdengar dengan logat,
dan gaya bahasa asal kampung halaman mereka, sangat khas sekali terdengar.
Sehingga bagi penduduk Batam bila akan mengenali mereka, dan dari mana asal orang-orang tersebut akan cepat
mengetahuinya. Apalagi ketika dilihat dari cara dan gaya berpakaian, serta
barang bawaan yang mereka jinjing, akan lebih mudah mengenali mereka.
Hal itu membuat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pun
sudah sangat mengenali dan “hafal”, biasanya sudah ada seseorang yang
mengkoordinir kedatangan mereka, para petugas kependudukan itu tidak perlu, untuk
menayakan atau mewawancarai (interview) mereka satu per satu, hendak
kemana tujuan mereka lagi, si petugas tinggal mencatat jumlah orangnya, dengan
satu “kedip mata” sebagai tanda antara koordinatornya dan petugas itu, maka
akan kecipratan “setoran”. lah para petugas itu.
Begitu juga halnya dengan petugas yang lainnya. Mereka
pura-pura menegakkan disiplin, aturan, penegakan hukum, tapi ujung-ujungnya,
duit,..! duit,..! duit,..! Om,..! acuh tapi butuh. Habis harus bagaimana lagi,
para oknum petugas itu semua butuh juga
untuk “cari sampingan pemasukan”. disamping mereka sudah mendapatkan gaji,
mereka juga mencari tambahan penghasilan, salah satunya dengan cara bekerjasama
dengan para tekong TKI illegal (TKI yang
tidak memiliki izin kerja secara resmi dari pemerintah Negara yang dituju) itu
Untuk saat ini,
sangat sulit ditemui petugas,
yang mencari makan hanya untuk sebatas kebutuhan perut saja, tapi juga harus
memikirkan anak isteri dan keluarga, berusaha untuk mencari kelebihan ; untuk
beli rumah, atau membeli mobil, misalnya. Kalau berharap untuk tinggal di rumah
dinas terus, itu akan membosankan karena
mereka menganggap bahwa rumah tersebut berukuran kecil dan sempit. Dan terkadang ada yang
pegawai tidak mendapat fasilitas rumah
dinas, alias masih ngontrak. Ada juga diantara mereka yang cari tambahan
penghasilan untuk ditabung, guna persiapan
di hari tua, pada saat pensiun mereka masih ada kegiatan dengan
cara membuat usaha rumah kontrakan, membeli tanah, atau uangnya di simpan dalam
bentuk deposito di bank
Tapi, ada juga koordinator, yang
kucing-kucingan, dengan pihak aparat,
mereka tidak mau bekerja sama. Dari tindakan itu, berakibat kepada calon
TKI-nya, kasihan melihatnya, mereka
tidak ada yang mengurus saat kedatangan mereka di Batam. Kalau calon TKI,
medapat koordinator akal-akalan dan
kurang bertanggung jawab seperti ini, yang hanya mementingkan keuntungan uang
semata, maka inilah pertanda nasib TKI
kurang beruntung, capek dibadan, kusut dipikiran.
Akhirnya tujuan untuk berangkat ke
Malaysia jadi tertunda, apalagi kalau ada razia, biasanya para TKI ini lah yang ditahan lebih dulu,
dibanding dengan koordinator atau kasarnya dapat disebut dengan “calo”nya.
Bahkan, para koordinator tidak dapat me-lobby pihak aparat, resikonya masuk
sel, dan dikembalikan ke kampung halaman mereka.
Kalau sudah begini, maka para TKI-lah yang rugi,
sudah mengeluarkan biaya, waktu,
dan tenaga. Meskipun terkadang untuk biaya keberangkatan TKI itu, mereka
sanggup cari utang-an dari para rentenir. Dan lebih parah lagi harta miliknya
satu-satu yang ada pun ikut melayang, Dengan harapan agar ada perbaikan hidup di masa depan. Atau
dengan perjanjian, ketika nanti sampai di Malaysia baru dibayar hutangnya
dengan cara potong gaji.
Terkadang jika disimak lebih seksama,
perjuangan para TKI ini sangat berat.
Para pencari kerja di negeri seberang ini, ibarat makan buah simalakama, dimakan mati emak, tidak
dimakan mati bapak. Di dalam negeri
sendiri, mereka harus berhadapan dengan aparat penegak hukum negeri sendiri, di negeri orang mereka
juga harus berhadapan dengan aparat penegak hukum negara yang mereka tuju.
Belum lagi, rintangan yang harus dihadapi para “mafia-mafia TKI” di sana. Yang
tidak sedikit jumlahnya, sampai akhirnya para TKI harus meneteskan air mata dan keringat
menghadapi rintangan guna memperoleh pekerjaan di negeri orang.
Tapi itulah prinsip
anak negeri ini, dengan hidup
yang pantang menyerah, demi hidup senang di masa depan, tinggal nasib
lah yang akan bicara. Perjuangan dan
tenaga, telah di korban-kan, selagi
hayat masih dikandung badan. Dari pada hidup berpangku tangan, mengharap
dan menadahkan tangan menunggu bantuan orang lain. Lebih baik berjuang dan
berusaha di negeri orang. Bak kata pepatah lama “Kuda lari dapat diburu, nasib
manusia siapa yang tahu ?” dengan upaya ini
mungkin dapat berubah nasib mereka dan jika selama ini masih dianggap
salah, masih ada waktu untuk diperbaiki, yang penting terus berusaha.
Terkadang ada rasa dendam di dalam
sanubari para calon TKI itu yang tidak terungkapkan. Tidak bisakah, manusia itu dalam menjalani hidup dapat
berbagi dengan sesama ? jangan mentang-mentang melihat orang yang lemah,
diperlakukan semena-mena, kasar, tanpa
belas kasihan, bahkan seakan-akan hina sekali dari pandangan mata mereka.
Ada yang sinis melihat, tingkah yang
angkuh, terkadang diperlakukan tanpa berperasaan.
Sebagai manusia sebenarnya, kita ini
sama-sama hidup di muka bumi. Apa yang
tidak pernah kita buat. Saat manusia lahir,
kita sama-sama telanjang. Dan setelah manusia menjalani kehidupan di
dunia ini, namun segalanya tidak ada yang kekal abadi, diantara kita semua yang
diciptakan tuhan, ada awal, maka akan ada akhir, kenapa, terkadang manusia tak
bisa berbagi, untuk bersikap lebih manusiawi dengan sesama.
Sesekali terbesit juga suatu doa kepada Tuhan “jangan sampai
anak cucuku nanti, mengalami hidup yang sama seperti apa yang ku alami”, begitu
kira-kira yang terucap dari dalam hati pak Mustakin, salah seorang TKI yang
ikut dalam rombongan itu. Usianya sudah paruh baya, dalam usia yang sudah
mencapai hitungan lima puluh lima tahun itu. Dirinya berencana akan bekerja
pada sektor perkebunan kelapa sawit, di Malaysia. Saat dia menceritakan
pengalaman pahit yang dialaminya, waktu dirinya pertama kali berniat akan
berangkat mengadu nasib di negeri orang, itu sekelumit kisah pak Mustakin, lelaki asal pulau Madura yang berjuang untuk
merubah nasib di negeri seberang.
Lain pula halnya apa yang terjadi pada diri seorang
perempuan yang juga ingin merubah nasib di negeri jiran itu. Sebut saja namanya
Aisyah, seorang gadis manis, yang masih
lugu. Aisyah mengaku bahwa
dirinya baru saja menyelesaikan pendidikan pada salah satu pondok pesantren di
kampungnya. Pendidikan yang ditempuhnya
di pondok pesantren itu, Tsnawiyah
sederajat dengan sekolah lanjutan. Sejak keluar dari pondok pesantren Aisyah,
belum memperoleh pekerjaan tetap. Maka untuk mengisi waktu luangnya, dia cari
kesibukan sehari-hari dengan mengerjakan apa saja, agar tidak bosan di rumah.
Namun Aisyah juga tidak lupa untuk membantu emaknya di rumah.
Aisyah memiliki paman dan bibi yang sudah lama menetap di
Malaysia. Paman dan bibi Aisyah sudah pernah mendaftar sebagai penduduk
Malaysia, melalui program pemutihan,
yang dilaksanakan oleh kerajaan Malaysia. Jadi paman Aisyah yang bernama
Sadimin dan bibinya, yang bernama
Potiyem, sudah memiliki Kartu tanda penduduk Malaysia, kalau di Malaysia
disebut dengan IC (identity Card) dengan
memilik IC tersebut paman dan bibi Aisyah dapat hidup tenang, tanpa takut
ketika dilakukan razia oleh pihak “Rela”
semacam pasukan sukarelawan yang terdapat di Indonesia, lingkup kerja
Rela itu, membantu kerajaan Malaysia
dalam menertibkan para imigran dan pekerja
illegal di sana.
Kalau kita di Indonesia, Rela itu seperti,
Hansip/ Kamra, tapi Hansip di sana sepertinya lebih punya “gigi”, untuk
soal keamanan wilayah. Apalagi saat bertugas dalam suatu pengerebakan terhadap
para “pendatang haram” (illegal). Kelihatannya para Rela ini begitu senangnya
dan bersemangat akan tugas yang diembannya itu. Semangat itu menyala-nyala, saat mereka bertugas,
bayangkan saja, dengan satu gertakan, ancaman, malah terkadang, intrograsi akan
membuat para imigran dari Indonesia menjadi tersudut, jika sudah demikian
halnya para pendatang dari Indonesia yang sudah tertangkap tidak ada hak untuk
membela diri lagi.
Sadimin dan Potiyem, sering menelpon
Aisyah, untuk mengajak Aisyah tinggal di
Malaysia. Pekerjaan Sadimin sebagai
tukang yang membuat bangunan yang selalu mendapat kerja borongan dari kontraktor,
pekerjaan membangun gedung (building). Sedangkan isterinya, membuka warung nasi
(kedai nasi), yang menjual sarapan pagi, seperti nasi lemak, teh tarik, milo,
nescafe. Pada siang dan malam harinya
Potiyem, menyiapkan masakan nasi
campur, masakan ala Indonesia, tanpa
masakan kari.
Kedai nasi Potiyem selalu ramai dikunjungi oleh
pelanggannya, mereka yang datang,
rata-rata berasal dari Indonesia. Kedai Potiyem itu juga dijadikan sebagai
tempat nongkrongnya bagi para pekerja, baik itu pekerja legal maupun yang
illegal, asal Indonesia, terutama mereka
yang berasal dari daerah Madura, untuk sekedar makan nasi campur. Para pekerja
itu biasanya mereka tinggal masih dalam satu kawasan (wilayah), di kawasan
Bakar Batu, Johor Bharu Malaysia,
Sementara di suatu desa yang terletak
di pulau Madura sana, banyak juga tetangga-tetangga Aisyah yang baru pulang
dari Malaysia, tampak terlihat adanya
perubahan kehidupan mereka, dari gaya hidup, terlihat pada pergelangan
tangan mereka sudah melilit seuntai gelang berlapis emas, begitu juga pada leher
sudah bergelayutan kalung emas bermatakan mutiara.
Dan tidak sedikit dari mereka yang pulang dari merantau dan
bekerja di Malaysia dapat membangun rumah, atau membeli sebidang tanah, ada juga yang dapat
membeli beberapa ekor sapi. Kalau
didengar dari cara mereka berbicara pun sudah ada perubahan, terutama dari
logat bicara sudah berubah. Kalau mereka berbicara dengan orang kampung, maka
logat-logat Melayu Malaysia selalu keluar, diantara mereka ada yang sudah tinggal bertahun-tahun di
negeri jiran tersebut.
Peristiwa yang terlihat di kampung
itulah, yang terkadang membuat hati
Aisyah gelisah. Dari cerita yang di dengarnya, apakah itu suka dan duka orang-orang yang merantau di negeri jiran Malaysia. Tapi
bagaimanapun juga Aisyah, sempat mengenyam pendidikan sekolah menengah. Dirinya
sadar. Meskipun hujan emas di negeri
orang, hujan batu di negeri sendiri dia merasa lebih baik hidup di negeri
sendiri, gumamnya dalam hati.
Aisyah yang sedikit banyak,
pernah mendapat pelajaran tentang kebangsaan, pelajaran itu, masih segar dalam ingatannya,
apa itu artinya nasionalisme, terkadang hal itu juga yang membuat dirinya kecewa. Idealisme, nasionalisme, tidak dapat ditukar
dengan kesempatan kerja, tidak dapat menahan perut lapar, semua mesti bersaing,
antara satu dangan yang lain, sungguh
ketatnya persaingan dalam hidup ini.
Tapi ada juga dari segelintir orang
yang selalu bicara nasionalisme, berkoar-koar kemana-mana. Tapi hidupnya hanya
mementingkan diri pribadi dan
kelompoknya, “merampok” sana-sini, dengan cara-cara yang halus, Maka
seakan-akan ialah pahlawan kesiangan di negeri sendiri. Karena dia merasakan
seenak-enak di negeri orang, takkan seenak di negeri sendiri. Perasaan,
kebebasan, dan harga diri, terkadang cibiran pasti ada, yang keluar dari mulut penduduk negeri asli tempatnya tinggal.
-. “Orang Indon,.. cari makan di negeri orang,..susahkah
awak, di negeri awak ?,.. apa kerja,..? apa awak punya pejabat,..? tak pandai
urus awak punya rakyat kah… ?”
Kata-kata itu selalu terdengar dari orang Malaysia, ketika
seorang TKI melamar suatu pekerjaan di sana.
Waktu terus berjalan, akhirnya luntur
juga pertahanan Aisyah, akan rasa nasionalisme, yang pernah dia pelajari di
sekolahnya. Namun kini realitanya, demi tuntutan hidup, terutama jika dikaitkan
dengan persoalan perut, karena perut ini, susah diajak kompromi. Kemudian
Aisyah juga berpikir tentang masa depan.
Melihat orang tuanya sudah mulai tua renta, Aisyah juga
memiliki adik sebanyak empat orang yang masih antri menunggu untuk dibiayai.
Seperti untuk biaya pendidikan, dan makan sehari-hari. Sementara penghasilan
orang tuanya dari bertani dan menangkap
ikan, semakin hari, bukan semakin meningkat dan berlipat ganda, tapi malah
semakin berkurang, sedangkan biaya operasional untuk melaut atau bercocok tanam
semakin hari semakin mahal.
Peningkatan biaya kehidupan, diiringi
dengan biaya yang meningkat pula, bahkan berlipat ganda, karena faktor inflasi yang memprihatinkan, dibanding dengan
mata uang dollar yang bila di kurs-kan
ke nilai tukar rupiah sangat rendah,
terkadang kurs dollar dan ringgit turun naik
tak menentu. Di kampung Aisyah harga kebutuhan pokok, selalu naik, tak sebanding lurus dengan
pendapatan yang diperoleh. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terjepit. Jika dibandingkan waktu
dulu dan sekarang, jika dulu uang seratus ribu dapat beli beras sekarung, namun
sekarang, cuma dapat setengah karung.
-. : “M’bok,.. m’bok tak iyeh, semakin melarat saja, hidup ini”
keluh Aisyah dalam hati.
Bibi Aisyah, Potiyem yang di tinggal
di Malaysia selalu menghubungi Aisyah melalui telepon, biasaya
bibi Aisyah menelpon ke nomor telepon tetangga sebelah rumah yang bernama pak
Badrun. Badrun, salah seorang yang memiliki telepon genggam di kampungnya, pak
Badrun, selalu setia, memanggil Aisyah,
setiap ada telepon dari bibinya yang ada di Malaysia.
Namun dalam diam pak Badrun menaruh
hati dengan Aisyah, untuk dijadikan
istrinya. Namun Badrun belum berani mengungkapkan isi hatinya. Karena Aisyah
seorang gadis yang kurang terbuka terhadap laki-laki yang berusaha mendekati
dirinya. Pikiran Aisyah hanya tertumpu pada kedua orang tuanya, dan nasib adik-adiknya.
Di Madura, entah sudah tradisi yang
dianut oleh masyarakat Madura atau itu hanya sebagai mitos saja, biasanya gadis
seusia Aisyah, sudah menggendong anak, minimal Aisyah kalau sudah dinikahkan
sudah miliki anak dua orang, pada usia
yang sangat muda sekali anak perawan sudah cepat-cepat dinikahkan oleh orang tua mereka. Tapi tidak jarang ada
yang memutuskan untuk jadi janda muda, karena alasan perempuan di Madura tak mau dimadu.
Akibat korban kesenangan kaum laki-laki di Madura untuk
menikah lebih dari satu. Dan hobby gonta-ganti bini. Memang jodoh ada di tangan
Tuhan, yang telah ditentukanNya, ada
orang yang kawin hanya sekali saja dalam seumur hidupnya, namun ada juga
yang menikah lebih dari sekali, atau dua kali atau mungkin lebih dari
itu, tapi ada juga yang tidak kawin-kawin. Tapi di Madura untuk kasus ini
jarang terjadi.
-: “Hallo,.. hallo dengan siapa nih,..? Aisyah….ya?”
terdengar suara bibi Aisyah dari ujung telepon,.
+. : “,.. engki,.. engki,.. bi,.. gimana kabar bibi,..”
jawab Aisyah dengan penuh semangat
-: “ Baik Aisyah,.. bibi selalu sibuk saja Syah,.. di kedai,
cuma sendiri,. gak ada yang bantu, disini semua orang sibuk,..dan maunya hanya
kerja di kilang (pabrik),.. susah cari orang yang mau kerja di kedai, untuk bantu-bantu bibi masak”.
Masih dalam obrolan di telepon, Bibi Aisyah kembali
menayakan kesedian Aisyah untuk berangkat ke Malaysia.
-: “Jadi gimana rencana Aisyah nak berangkat ke Malaysia,..?
bolehlah Aisyah,.. bibi cakap
betullah,.. bibi tak kan kecewakan
Aisyah,.. nanti kalau Aisyah sudah di Malaysia, ada kerja yang lebih
bagus tak ape-apelah kerja di sana”. Cecar Bibi Aisyah
+: Engki bi,.. Aisyah
jadi berangkat,.. jawab Aisyah singkat
-: “ Nah nanti Aisyah bibi kasih nomor telpon
tekongnya,..Aisyah ikut saja itu rombongan tekong,..biasanya lewat Batam. Dari
Batam baru nyeberang ke Malaysia,.. entar sampai di Malaysia langsung diantar
ke alamat. Oke..! yah Aisyah,..
siap-siap lah” terang bibi Aisyah
+: “Engki bi,.. Jawab
Aisyah mengiyakan, akan ajakan bibinya untuk merantau ke Malaysia.
-: “Nanti bibi,.. kirim ongkosnya” ujar bibi Aisyah.
+: “Engki,… Bi”,..
-: “Salam,….yah sama Aba,.. sama Mamak” pungkas bibi Aisyah
+: “ Engki bi,..“ jawab Aisyah mengakhiri pembicaraannya
dengan bibinya yang di Malaysia, sembari
tangan Aisyah, menyodorkan telepon genggam Badrun, untuk dikembalikan
kepadanya.
Dorongan semangat datang, dari kedua orang tua Aisyah,
-: “Yah udah, Aisyah,… kalau mau berangkat,.. Aba sama emak
pun ikut senang juga,.. ikut
mendoakan,.. siapa tau disana,.. ada perubahan nasib,.. Aisyah lihat kan, Aba
pun udah semakin tua,.. badan pun udah mulai sakit-sakitan, Sedangkan adikmu
masih ada empat orang,.. yang semuanya siap
antri untuk, menunggu biaya hidup
sehari-hari dan biaya sekolah. Aba dan
emak mu selalu mendoakan buat, keselamatan,.. kebahagian,.
dan kesejahteraan Aisyah ke depan” Ungkap Ayah Aisyah pada suatu malam sebelum
keberangkatan Aisyah ke Malaysia.