Berangkatlah
Aisyah dari kampung halamannya,..!
-:
“Selamat tinggal kampung halaman ku,.. “ gumamnya dalam hati.
Dengan
sedikit derai air mata, perasaan berat menyelimuti hati Aisyah untuk meninggalkan Abah dan emaknya, begitu
juga dengan adik-adik Aisyah yang ia
cintai. Demi suatu tujuan dan cita-cita hidup di masa depan. Banyak pengalaman
Aisyah, yang akan ia sampaikan, kepada bibi dan pamannya nanti ketika sesampainya
Aisyah di Malaysia nanti.
Aisyah
sempat menginap, beberapa malam di rumah
koordinator/ tekong, yang ada di Batam, karena
dirinya sesampai di Batam, Aisyah
belum bisa menyeberang ke Malaysia. mengingat situasi lagi “panas”,
-:
“ Lagi ada razia besar-besaran di Malaysia,” kata seorang tekong, saat Aisyah
berada di penampungan di Batam
Ditambah
lagi ada kejadian sebuah boat yang membawa TKI illegal tenggelam di laut, Boat
yang biasa membawa rombongan TKI illegal (
pendatang haram). Dengan tujuan dari Malaysia ke Batam lewat jalur tak resmi, ( lewat pintu belakang), dikarenakan
boat tersebut terlalu sarat membawa penumpang, yang akan pulang ke Indonesia,
sehingga hilang kesimbangan kala ombak
menghantam boat itu.
Secara
geografis, letak Batam dan Malaysia memang sangat strategis sekali, antara
pulau Batam dan Malaysia hanya dipisahkan oleh
selat, disamping banyak teluk
yang menjorok ke laut. Sehingga, banyak
“pelabuhan tikusnya” (pelabuhan tidak
resmi), untuk mendaratkan para TKI illegal yang akan berangkat ke Malaysia atau
pulang dari Malaysia, hal ini memudahkan kerja para tekong untuk berkerja
dan menjadikan lahan bisnis bagi para
pemilik boat pancung, (perahu kayu berukuran 25 kaki, yang dilengkapi oleh
mesin tempel, dengan kelajuan yang cepat) untuk memberi jasa penyeberangan TKI
yang izin tinggalnya sudah habis (over stay)
di Malaysia, bahkan para TKI itu sudah
tak punya passport lagi. Namun ada juga yang sampai menikah di Malaysia lalu punya
anak, tanpa memliki selembar dokumen resmi.
Pekerjaan apapun, terkadang selalu
membawa dampak dan resiko. Beginilah kejadian yang sering menimpa para
penumpang boat pancung, terkadang ada saja
kejadian-kejadian di laut yang diluar
dugaan, seperti datangnya hempasan gelombang laut yang besar dan dahsyat, sehingga
membuat boat pancung oleng dan terbalik. Terkadang datangnya petugas-petugas
aparat polisi perairan Malaysia. (Police DiRaja Malaysia).
Itulah resiko-resiko yang harus dihadapi
oleh para TKI Ilegal, pada saat di negeri jiran maupun saat ingin pulang ke kampung
halaman. Terkadang sampai-sampai nyawa jadi taruhannya.
Sewaktu
Aisyah di Batam sempat, ia mendengar kejadian, yang membuat merinding bulu kuduknya.
Dan menambah seramnya suasana, sudahlah dalam ruangan di tempat penampungan
udaranya panas, sehingga membuat jantung tambah berdebar saja.
-
: “Ada boat pancong TKI dari Malaysia, terbalik di laut,
korbannya bayi, perempuan, dan beberapa
orang laki-laki” . Kata Ampong, salah seorang TKI yang beruntung selamat dari
terjangan maut, dan ganasnya gelombang
-
:” Semua barang bawaannya tiada tersisa
satupun, hanyut dibawa arus, tinggal celana dalam di badan, untung chong, fase (duit),.. udah dikirim ke kampung,…gak
aku bawa,.. kalau tak habislah hasil, kerjaku selama lima tahun, di Malaysia hanyut di lautan,..”
Begitulah cerita Ampong, sewaktu di penampungan, di Batam.
Ampong
yang selamat dari maut di laut itu akhirnya kembali ke Madura, dengan memakai
baju pemberian tekong, dan uang pinjaman untuk membeli tiket.
-: “Syukur-syukur masih,..
dilindungi pangeran,..selamat, (tuhan) ! aku pun udah pasrah. Untung aku dapat
memegang sekeping papan, sambung Ampong menceritakan kisahnya di hadapan calon TKI yang akan berangkat ke Malaysia.
Mendengar cerita Ampong itu perasaan
Aisyah semakin seram saja, membuat bulu kuduknya tambah merinding saja.
Terbesit rintihan dan doa, dalam hati
nya yang dalam,..
-
: “Ya Allah,.. seberat itukah derita,..
yang mesti kami alami,.. di darat kami mesti berhadapan dengan para aparat negeri
sendiri, di laut kami berhadapan dengan ganasnya gelombang, terkadang, nyawa juga
yang mesti jadi taruhannya” gumam Aisyah dalam hati.
Keesokan
harinya, jadi juga Aisyah menyeberang ke Malaysia, dengan menggunakan ferry cepat, yang sudah disediakan, oleh jasa koordinator
di Batam. Melewati pelabuhan Batam Centre, pelabuhan ini khusus untuk memberangkatkan dan mendaratnya TKI. Pelabuhan Telaga Blungkur Malaysia, yang konon katanya
pelabuhan tersebut, memang digunakan hanya khusus rombongan TKI, karena
letaknya pun di pinggiran kota bagian Malaysia, kalau penumpang umum segan
rasanya untuk lewat pelabuhan tersebut.
Karena letaknya terpencil jauh dari kota Johor Bharu. Sedangkan penumpang umum
akan merasa gengsi, takut dikira petugas immigration,
kita mau bekerja dan cari makan di negeri jiran Malaysia.
Setibanya
Aisyah di Malaysia, dia langsung dijemput oleh orang yang diperintahkan Bibi Aisyah, jadi Aisyah langsung diantar di
alamat Bibinya di Malaysia. Saat makan malam, bersama Bibi dan Pamannya, Aisyah sempat berkeluh kesah, seputar pengalaman perjalanan.
-
: “Untung bi,.. Aisyah gak tertahan
lama, di penampungan,.. syukur Alhamdulillah,..
semua lancar,..waduh bi,.. bi,…kalau lama bisa stress,.. maklumlah kondisi di penammpungan, tak seenak di rumah sendiri. Orangnya banyak lagi, tidurnnya
bersusun, kayak, menjemur ikan asin. Ada perempuan, ada laki-laki,
ditambah ada anak-anak,.. bayi lagi, kalau malam rewel, nangis terus,
semua serba antri, makan antri, ke toilet antri,..ih,..kalau sempat seminggu
aja pasti stress,..Aisyah” keluh Aisyah kepada Bibinya
Penampungan
di Batam, yang ditempati Aisyah tak ubahnya
seperti di posko penampungan bencana
alam, saat suatu daerah sedang dilanda bencana, banjir atau gempa bumi. kayak cerita
guru agama Aisyah dalam sejarah Nabi Nuh
yang dilanda banjir. Sebetulnya hutan
masih lebat, tapi begitu Tuhan kasih hujan tak berhenti-berhenti
akhir banjir juga. tapi Malaysia ada juga
terdengarlah berita-berita banjir
sesekali, sudah hampir macam Jakarta
lah, Katanya ibukota negara, tapi kenapa Banjir terus, Banjir, bocor,…bocor,.. bocor bendungan, dan paritnya. Habis campuran semennya kebanyakan pasir dari
semennya, besi beton dipasang seasalnya, bendungannya satu tahun selesai
dibangun, ambroel, bles, apalagi yang datang terjangan air bah.
Kasihanlah, orang yang
punya rumah bagus-bagus kena banjir, terkadang dia punya alat
rumah tangga, elektronik, mobil
mewah habis teredam air bercampur lumpur, sedangkan orang
yang kurang mampu kesadarannya membuang sampah pada tempatnya masih kurang
lagi, seenaknya membangun rumah di bantaran kali. Begitu mau digusur susah sekali,
mesti ribut-ribut dulu sama petugas.
Terkadang
membuat serba salah. Begitulah situasi kehidupan di Indonesia, banyak orang
yang mau hidup. Pindah ke kota tidak punya modal dan tempat, akhirnya tinggal
di pinggir kali. Mau hidup bertahan di kampung kesempatan kerja susah.
Pabrik-pabrik tak ada. Jadi tak ubah seperti orang hidup segan mati tak mau.
-
: “Itulah payaahnya, bii,..” kata Aisyah
+:
“Di Indon tu, tak seronoklah, para
pejabatnya, banyak mikir kantong pribadi, tak berpikir panjang, ke depannya, bagaimana, untuk orang
banyak. Coba Aisyah, tengok, kalau
di Malaysia mana berani, pejabat melawan kerajaan, apalagi nak banyak korupsi”
ungkap bibi Potiyem. Lalu disambungnya lagi
+
“Beda dengan di Indon, ape pon boleh
dia nak
buat, korupsi, dia buatlah,
suka-suka hati. Kalau di Malaysia masih ada rasa hormat daulat tuan ku raja. Jadi kalau membangun
itu dia benar-benar buat kesejahteraan rakyat banyak, jadi tak berani macam-macam.
+
“Coba saja Aisyah tengok, parit di Malaysia, besarnya, lebar, dalamnya, bersih
lagi, mana nak lawan parit di Indon. Itu
baru soal parit saja Aisyah, udah jauh
bedanya, bagaimana dengan pembangunan gedung-gedungnya ?” celoteh bi Potiyem
kepada Aisyah.
Masih
cerita bi Potiyem “Di Malaysia,.. nih, orang bangun gedung pun teratur rapi, ada banyak lorong-lorong untuk orang
jalan, untuk orang rehat, duduk santai, ada taman. Jadi orang boleh bual-bual, bercanda-canda, bersama
keluarga. Soal jalan saja, tengok, dia punya jalan tol, di Malaysia motor boleh
masuk tol, dikasih jalur sendiri, tak payah bayar lagi “ paparnya.
Lalau
Aisyah menimpali cerita bi Potiyem,
-:
“Itulah bii, waktu Aisyah mau berangkat ke Malaysia ini aja, kayaknya gimana,
orang melihat, kami rombongan TKI, Kayak
direndahkan saja, kayak hina saja, petugas-petugasnya sinis lagi, kayak di pelabuhan ape itu bii, di Batam”, taya
Aisyah
+:”Pelabuhan,
ape Syah ?, Oh itu, Batam Centre” timpal Bi Potiyem
-:
“Kami bayar pas pelabuhannya, sama tujuh
ringgit, beda dengan penumpang umum, tapi
ruang tunggunya dibedakan kayak anak tiri, panas, tak ber AC, yah,… aku kan punya hak juga sebagai WNI”.
Cerita Aisyah mengisahkan pengalaman perjalannya kepada bibi Potiyem.
Ditambahkan
lagi oleh Aisyah
“Sudah
kita nak masuk cop paspor bayar juga, sama immigration, dan semua,
cenek-bengeknya, Uang keamananlah, itu
tekong nya cakap, kalau kita tak bayar mana boleh nak keluar, sebetulnya kita punya paspor turis
lagi. Jadi semua yang kita bayar biaya sama tekong, Itu udah termasuk
biaya-segala-galanya, yah yang termasuk, macam-macam duit siluman, tuh,..”
kesal Aisyah dengan keadaan seperti yang dia alami.
Masih
cerita Aisyah lagi
“Kalau,
biaya tiket saja sama transportasi, tak mahal sangat lah. Itulah bii, waktu Aisyah cakap sama koordinator
yang di Batam. Dia cakap, kenapa ada biaya lebih macam tu, dia cakap, karena dia nak bagi sana-sini.
Pejabat di pelabuhan Batam Centre nak dibagi. nanti pejabat di Malaysia kita
nak bagi juga, kalau tak begitu macam
mana kita boleh masuk? “ keluh Aisyah.
“Yang
lebih gila lagi bii,..! sambung Aisyah. Ada yang masuk Malaysia pakai paspor
lain wajah,..”
+
: Wah, kok bisa, yaa, Syah, ? “ tanya bi Potiyeem.
-:
“ Yah itulah bii, bii, semua duit yang bicara,
di Indon kan, juga duit yang di
tengok, di Malaysia juga duit yang ditengok, cuma di Malaysia masih mendingan
tak conggok sangat “ jawab Aisyah
kepada bibinya
+
: “Maka itulah, Aisyah, kesempatan kamu udah di Malaysia ini, Jadi kita carilah duit yang sebanyak-banyaknya. Orang pasti
hormat sama kita Syah. Mereka pasti
senang, di kampungpun macam tu
juga,..! jadi kilauan duit dapat mengalahkan segala-galanya, terkadang harga
diri, kehormatan, kesucian pun terkadang, dapat dijadikan taruhan untuk mencari
duit” pungkas bibi Potiyem.
Tak terasa
makan malam pun hampir usai, dengan
masakan khas Indonesia campur Malaysia. Bibi Potiyem menjamu Aisyah dengan
masakan bikinannya sendiri
“Wui,..!
sedap sangat makan malam ini,
nasi campur beras jagung, ada
sambal codet belacan, rebus petai, sama
lalap terong, ikan bakar, sama ayam bakar, tambah masak kuah lemak
santan kari, daging cincang” ujar
Aisyah.
“Wuh
kalau soal makan Aisyah tak usah
takut,..!” kata bii, Potiyem, di Malaysia nih bahan makanan, semua ada, murah-murah
lagi, pokoknnya makmur lah. Nanti Aisyah kalau balik ke
Indon pasti udah kayak lumba-lumba,.. makanya rajin-rajin lah senam.”
Ujar Bi Potiyem., serentak mereka semua pada ketawa kecil, ha..ha..ha….
“Kalau
cerita pengalaman masuk Malaysia, Aisyah, waktu zaman bibi tidak ada yang
menandingi, bibi, hanya sama paman
dululah, terasa benar masam, manis, dan pahit getir nya, derai air mata,..nih,
sama keringat menetes, udah gak kehitung lagi. Dulu zaman bibi, masuk Syah,
Bibi lewat belakang, malam-malam lagi, Masuk
hutan dulu baru ke penampungan, Itu juga pertama tinggalnya dekat
kampung-kampung dekat lokasi perkebunan kepala sawit. Kerja nya, ngebersih, sama metik buah sawit.
Dengan sabar dari hari ke hari punya kawan penduduk asli sini, barulah, dapat
IC (KTP), karena waktu itu ada kebijakan pemutihan. Baru pindah kerja tinggal
dekat kota nih, kalau tak, se-umur-umur tinggal dekat hutan,.” Cerita bibi
Potiyem..
Bibi
Potiyem masih meneruskan ceritanya “Yah, sekarang Aisyah,.. tengoklah syukur
Alhamdulillah, tinggal menikmati, coba kalau kita tinggal di kampung Madura
sana, untuk makan tiga kali seharipun, masih mikir, pusing setengah kepayang, sampai perut pun
kembang-kempis Saking susahnya, untuk mencari jalan hidup ini. Belum tentu
dapat pekerjaan, yang sorenya jadi duit. Nah kalau di Malaysia nih, tergantung mau apa gak kita kerja, pekerjaan
antri, yang penting mau kerja kasar-kasar dikit lah. Tapi kalau mau cari kerja
kantoran yah susah. Yah inilah hidup, seperti banyak orang cakap. membutuhkan
perjuangan, dan pengorbanan.
Memang
Aisyah,. terkadang ada juga yang buat kacau, datang ke Malaysia nih. Itukan
ulah orang kita juga, orang Indon, ada yang datang ke Malaysia, yang
benar-benar mau kerja, tapi ada juga yang nakal, ingin cepat kaya, kerjanya
merompak lah, begaduh lah, ganggu bini oranglah, kan bikin susah orang banyak,
karena ulah satu orang, yang lain akhirnya ikut jadi korban, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, jadi rusak
semuanya…..”
“Mestinya
kita sadarlah, dan tau diri, udah kita numpang hidup di negeri orang. Jadi
jangan buat ulah lagi. Kan kita juga yang susah, akhirnya kan pasti ada razia
lagi. Banyak lagi anak-anak Indon yang kena razia, Yang gak punya dokumen
lengkap, mematikan pasport. Tapi
biasanya, kalau udah ketangkap razia masuk lock-up
lah (penjara), setelah tiga bulan baru nanti dibuanglah ke Tanjungpinang, tetangganya
Batam, (penampungan Dinsos), setelah itu, dari sana dipulangkan ke kampung asal
masing-masing.
“Dan terkadang banyak juga Aisyah, orang kita Indon ini, yang jadi mata-mata polisi, mereka tu malas kerja berat, jadi kerjanya memata-matai
orang Indon kepada polis, lalu orang itu ditangkap polis” papar Bibi Potiyem.
“Iyah
kaah, bii,. ?” sela Aisyah.
“Wuh,
bibi dulu pernah kena tangkap, saat sedang dalam mobil sedan, bersama empat orang, kawan
bibi, waktu bibi masih bekerja di kantin, Coba gimana,..? police bisa
tau mobil yang kita pakai (mobil jemputan), dan jam berapa, kita di jemput
kerja. Tau-tau waktu kita di jalan, tiba-tiba saja di belakang mobil kita ada
mobil, police, akhirnya kita disuruh berhenti. Dan dibawa lah kita ke balai
police, kita di intrograsi, diancam. Tapi ujung-ujung kita disuruh bayar
seorang seribu Ringgit Malaysia, untung tauke mau jamin. Tapi kami harus
mengganti uang jaminan tauke dengan cara
potong gaji, setiap bulan, 200 ringgit” ungkap Bibi Potiyem.
“Nah
itu macam, kerja orang kita juga, yang datang ke Malaysia. Tak mau kerja
berat mau jadi mata-mata police, pasti
orang-orang yang dekat kitalah. Jadi banyak macam lah, cara orang cari duit, cari makan ni, Syah,..
Syah,..! dalam hidup ini, ada orang yang
baik, ada juga yang jahat. Ada yang
malas, ada yang rajin, ada yang jujur, ada yang korupsi” kata bi Potiyem. (*)
1 komentar:
Saya ibu surthy tki singapore saya hadir berkomentar di dalam blog ini,cuma ingin menceritakan kisah nyata,sekaligus mau mengucapkan banyak terima kasih kepada Mbah Sero,atas bantuannya semua hutang2 saya sudah pada lunas,nomor togel yang Mbah berikan lansung 4d bocoran singapore,syukur alhamdulillah tembus dapat kemenangan 800.juta,itu dalam bentuk uang indo,kemarin saya sangat bingun karna hutang banyak,syukur sekarang sudah senang tidak memikirkan hutang lagi,saya tidak akan melupakan bantuan Mbah,apa bila saya sudah pulang ke indo saya akan berkunjung kepondok Mbah untuk silatu rahmi,bagi saudarah2 yang lagi terlilit hutang jangan anda putus asa,kalau mau sukses seperti saya silahkan tlpn atau sms Mbah Sero di nomor O82~370~357~999 beliau seorang paranormal yang bisa di percaya,karna sudah memberikan bukti,ingat kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali,jadi giliran anda untuk membuktikannya terima kasih..
Posting Komentar