Senin, 06 Juni 2016

AISYAH BERANGKAT KE MALAYSIA, Oleh ; Abdul Haris



            Berangkatlah Aisyah dari kampung halamannya,..!
-: “Selamat tinggal kampung halaman ku,.. “ gumamnya dalam hati.
Dengan sedikit derai air mata, perasaan berat menyelimuti hati Aisyah  untuk meninggalkan Abah dan emaknya, begitu juga dengan adik-adik Aisyah  yang ia cintai. Demi suatu tujuan dan cita-cita hidup di masa depan. Banyak pengalaman Aisyah, yang akan ia sampaikan, kepada bibi dan pamannya nanti ketika sesampainya Aisyah di Malaysia nanti.
Aisyah sempat menginap, beberapa malam  di rumah koordinator/ tekong,  yang ada di  Batam, karena  dirinya sesampai  di Batam, Aisyah belum bisa menyeberang ke Malaysia. mengingat situasi lagi “panas”,
-: “ Lagi ada razia besar-besaran di Malaysia,” kata seorang tekong, saat Aisyah berada di penampungan di Batam
Ditambah lagi ada kejadian sebuah boat yang membawa TKI illegal tenggelam di laut, Boat yang biasa membawa rombongan TKI illegal ( pendatang haram). Dengan tujuan dari Malaysia ke Batam lewat  jalur tak resmi, ( lewat pintu  belakang), dikarenakan boat tersebut terlalu sarat membawa penumpang, yang akan pulang ke Indonesia, sehingga hilang  kesimbangan kala ombak menghantam boat itu.
            Secara geografis, letak Batam dan Malaysia memang sangat strategis sekali,   antara pulau Batam dan Malaysia hanya dipisahkan oleh  selat, disamping  banyak teluk yang menjorok ke laut.   Sehingga, banyak  “pelabuhan tikusnya” (pelabuhan tidak resmi), untuk mendaratkan para TKI illegal yang akan berangkat ke Malaysia atau pulang dari Malaysia, hal ini memudahkan kerja para tekong untuk berkerja dan  menjadikan lahan bisnis bagi para pemilik boat pancung, (perahu kayu berukuran 25 kaki, yang dilengkapi oleh mesin tempel, dengan kelajuan yang cepat) untuk memberi jasa penyeberangan TKI yang izin tinggalnya sudah habis (over stay) di Malaysia, bahkan  para TKI itu sudah tak punya passport lagi. Namun ada juga yang sampai menikah di Malaysia lalu punya anak,  tanpa memliki selembar  dokumen resmi.
            Pekerjaan apapun, terkadang selalu membawa dampak dan resiko. Beginilah kejadian yang sering menimpa para penumpang boat pancung,  terkadang ada saja kejadian-kejadian di laut  yang diluar dugaan, seperti datangnya hempasan gelombang laut yang besar dan dahsyat, sehingga membuat boat pancung oleng dan terbalik. Terkadang datangnya petugas-petugas aparat polisi perairan  Malaysia. (Police DiRaja Malaysia). Itulah resiko-resiko yang harus  dihadapi oleh para TKI Ilegal, pada saat di negeri jiran maupun saat ingin pulang ke kampung halaman. Terkadang sampai-sampai nyawa jadi taruhannya.
            Sewaktu Aisyah di Batam sempat, ia mendengar kejadian, yang membuat merinding bulu kuduknya. Dan menambah seramnya suasana, sudahlah dalam ruangan di tempat penampungan udaranya panas, sehingga membuat jantung tambah berdebar saja. 
-          : “Ada  boat pancong TKI dari Malaysia, terbalik di laut,  korbannya bayi, perempuan, dan beberapa orang laki-laki” . Kata Ampong, salah seorang TKI yang beruntung selamat dari terjangan maut, dan  ganasnya gelombang
-          :” Semua barang bawaannya tiada tersisa satupun, hanyut dibawa arus, tinggal celana dalam di badan, untung chong, fase (duit),.. udah dikirim ke kampung,…gak aku bawa,.. kalau tak habislah hasil, kerjaku selama  lima tahun, di Malaysia hanyut di lautan,..” Begitulah cerita Ampong, sewaktu di penampungan, di Batam.

Ampong yang selamat dari maut di laut itu akhirnya kembali ke Madura, dengan memakai baju pemberian tekong, dan uang pinjaman untuk membeli tiket.
-: “Syukur-syukur masih,.. dilindungi pangeran,..selamat, (tuhan) ! aku pun udah pasrah. Untung aku dapat memegang sekeping papan, sambung Ampong menceritakan kisahnya di hadapan calon  TKI yang akan berangkat ke Malaysia.
            Mendengar cerita Ampong itu perasaan Aisyah semakin seram saja, membuat bulu kuduknya tambah merinding saja. Terbesit  rintihan dan doa, dalam hati nya yang dalam,..
-          : “Ya Allah,.. seberat itukah derita,.. yang mesti kami alami,.. di darat kami mesti berhadapan dengan para aparat negeri sendiri, di laut kami berhadapan dengan ganasnya gelombang, terkadang, nyawa juga yang mesti jadi taruhannya” gumam Aisyah dalam hati.
Keesokan harinya, jadi juga Aisyah menyeberang ke Malaysia, dengan menggunakan ferry  cepat, yang sudah disediakan, oleh jasa koordinator di Batam. Melewati pelabuhan Batam Centre, pelabuhan ini  khusus untuk memberangkatkan  dan mendaratnya TKI. Pelabuhan  Telaga Blungkur Malaysia, yang konon katanya pelabuhan tersebut, memang digunakan hanya khusus rombongan TKI, karena letaknya pun di pinggiran kota bagian Malaysia, kalau penumpang umum segan rasanya untuk  lewat pelabuhan tersebut. Karena letaknya terpencil jauh dari kota Johor Bharu. Sedangkan penumpang umum akan merasa gengsi, takut dikira petugas immigration, kita mau bekerja dan cari makan di negeri jiran Malaysia.  
            Setibanya Aisyah di Malaysia, dia langsung dijemput oleh orang yang diperintahkan  Bibi Aisyah, jadi Aisyah langsung diantar di alamat Bibinya di Malaysia. Saat makan malam, bersama Bibi dan  Pamannya, Aisyah sempat berkeluh kesah, seputar  pengalaman perjalanan.
-          : “Untung bi,.. Aisyah gak tertahan lama, di  penampungan,.. syukur Alhamdulillah,.. semua lancar,..waduh bi,.. bi,…kalau lama bisa stress,.. maklumlah kondisi  di penammpungan, tak  seenak di rumah  sendiri. Orangnya banyak lagi, tidurnnya bersusun, kayak, menjemur ikan asin. Ada perempuan,  ada laki-laki,  ditambah ada anak-anak,.. bayi lagi, kalau malam rewel, nangis terus, semua serba antri, makan antri, ke toilet antri,..ih,..kalau sempat seminggu aja pasti stress,..Aisyah” keluh Aisyah kepada Bibinya
Penampungan di Batam, yang ditempati Aisyah  tak ubahnya seperti  di posko penampungan bencana alam, saat suatu daerah sedang dilanda bencana, banjir atau gempa bumi. kayak cerita guru agama Aisyah dalam sejarah  Nabi Nuh yang dilanda banjir.  Sebetulnya  hutan  masih  lebat, tapi  begitu Tuhan kasih hujan tak berhenti-berhenti akhir banjir juga.  tapi Malaysia ada juga terdengarlah  berita-berita banjir sesekali, sudah hampir  macam  Jakarta  lah, Katanya ibukota negara, tapi kenapa Banjir terus, Banjir,  bocor,…bocor,.. bocor  bendungan, dan paritnya.  Habis campuran semennya kebanyakan pasir dari semennya, besi beton dipasang seasalnya, bendungannya satu tahun selesai dibangun, ambroel, bles, apalagi yang datang terjangan air bah.
            Kasihanlah,  orang  yang punya rumah bagus-bagus kena banjir, terkadang dia punya  alat  rumah tangga, elektronik, mobil  mewah  habis  teredam air bercampur lumpur, sedangkan orang yang kurang mampu kesadarannya membuang sampah pada tempatnya masih kurang lagi, seenaknya membangun rumah di bantaran kali. Begitu mau digusur susah sekali, mesti ribut-ribut dulu sama petugas.
Terkadang membuat serba salah. Begitulah situasi kehidupan di Indonesia, banyak orang yang mau hidup. Pindah ke kota tidak punya modal dan tempat, akhirnya tinggal di pinggir kali. Mau hidup bertahan di kampung kesempatan kerja susah. Pabrik-pabrik tak ada. Jadi tak ubah seperti orang  hidup segan mati tak mau.
-          : “Itulah payaahnya, bii,..”  kata Aisyah
+: “Di Indon tu, tak seronoklah, para  pejabatnya,  banyak  mikir kantong pribadi, tak berpikir panjang,  ke depannya, bagaimana, untuk  orang  banyak. Coba  Aisyah, tengok, kalau di Malaysia mana berani, pejabat melawan kerajaan, apalagi nak banyak korupsi” ungkap bibi Potiyem. Lalu disambungnya lagi
+ “Beda dengan  di Indon, ape pon boleh dia  nak  buat, korupsi, dia buatlah,  suka-suka  hati.  Kalau di Malaysia masih  ada rasa hormat  daulat tuan ku  raja. Jadi kalau  membangun  itu  dia  benar-benar buat kesejahteraan  rakyat banyak, jadi tak  berani macam-macam.
+ “Coba saja Aisyah tengok, parit di Malaysia, besarnya, lebar, dalamnya, bersih lagi, mana nak lawan parit  di Indon. Itu baru  soal parit saja Aisyah, udah jauh bedanya, bagaimana dengan pembangunan gedung-gedungnya ?” celoteh bi Potiyem kepada Aisyah.
Masih cerita bi Potiyem “Di Malaysia,.. nih, orang bangun  gedung pun teratur  rapi, ada banyak lorong-lorong untuk orang jalan, untuk orang rehat, duduk santai, ada taman. Jadi  orang boleh bual-bual, bercanda-canda, bersama keluarga. Soal jalan saja, tengok, dia punya jalan tol, di Malaysia motor boleh masuk tol, dikasih jalur sendiri, tak payah bayar lagi “ paparnya.
Lalau Aisyah menimpali cerita bi Potiyem,
-: “Itulah bii, waktu Aisyah mau berangkat ke Malaysia ini aja, kayaknya gimana, orang melihat, kami rombongan TKI, Kayak  direndahkan saja, kayak hina saja, petugas-petugasnya sinis lagi, kayak  di pelabuhan ape itu bii, di Batam”, taya Aisyah
+:”Pelabuhan, ape Syah ?,  Oh itu,  Batam Centre” timpal Bi Potiyem
-: “Kami  bayar pas pelabuhannya, sama tujuh  ringgit, beda dengan penumpang umum, tapi ruang tunggunya dibedakan kayak anak tiri, panas, tak ber AC,  yah,… aku kan punya hak juga sebagai WNI”. Cerita Aisyah mengisahkan pengalaman perjalannya kepada bibi Potiyem.
Ditambahkan lagi oleh Aisyah
“Sudah kita nak masuk cop paspor bayar juga, sama immigration, dan semua, cenek-bengeknya, Uang keamananlah,  itu tekong nya cakap, kalau kita tak bayar mana boleh nak keluar,  sebetulnya kita punya paspor  turis  lagi. Jadi semua yang kita bayar biaya sama tekong, Itu udah  termasuk  biaya-segala-galanya, yah yang termasuk, macam-macam duit siluman, tuh,..” kesal Aisyah dengan keadaan seperti yang dia alami. 
Masih cerita Aisyah lagi
“Kalau, biaya tiket saja sama transportasi, tak mahal sangat lah.  Itulah bii, waktu Aisyah cakap sama koordinator yang di Batam. Dia cakap, kenapa ada biaya lebih macam  tu, dia cakap, karena dia nak bagi sana-sini. Pejabat di pelabuhan Batam Centre nak dibagi. nanti pejabat di Malaysia kita nak bagi  juga, kalau tak begitu macam mana kita boleh  masuk? “ keluh Aisyah.
“Yang lebih gila lagi bii,..! sambung Aisyah. Ada yang masuk Malaysia pakai paspor lain  wajah,..”
+ : Wah, kok bisa, yaa,  Syah,  ? “  tanya bi Potiyeem.
-: “ Yah itulah bii, bii,  semua duit yang bicara,  di Indon kan, juga duit yang  di  tengok, di Malaysia juga duit yang ditengok, cuma  di Malaysia masih  mendingan  tak  conggok sangat “ jawab Aisyah kepada bibinya
+ : “Maka itulah, Aisyah, kesempatan kamu udah di Malaysia  ini, Jadi kita carilah  duit yang sebanyak-banyaknya. Orang pasti hormat sama kita Syah. Mereka pasti  senang,  di kampungpun macam tu juga,..! jadi kilauan duit dapat mengalahkan segala-galanya, terkadang harga diri, kehormatan, kesucian pun terkadang, dapat dijadikan taruhan untuk mencari duit” pungkas bibi Potiyem.
            Tak  terasa  makan malam pun  hampir usai, dengan masakan khas Indonesia campur Malaysia. Bibi Potiyem menjamu Aisyah dengan masakan bikinannya sendiri
“Wui,..! sedap sangat makan  malam  ini,  nasi campur beras jagung, ada  sambal codet belacan, rebus petai, sama  lalap terong, ikan bakar, sama ayam bakar, tambah masak kuah lemak santan kari, daging cincang”  ujar Aisyah.
“Wuh kalau soal makan Aisyah  tak usah takut,..!” kata bii, Potiyem, di Malaysia nih bahan makanan, semua ada, murah-murah lagi, pokoknnya makmur lah. Nanti Aisyah kalau balik  ke  Indon pasti udah kayak lumba-lumba,.. makanya rajin-rajin lah senam.” Ujar Bi Potiyem.,   serentak  mereka semua pada ketawa kecil, ha..ha..ha….
“Kalau cerita pengalaman masuk Malaysia, Aisyah,  waktu zaman bibi tidak ada yang menandingi,  bibi, hanya sama paman dululah, terasa benar masam, manis, dan pahit getir nya, derai air mata,..nih, sama keringat menetes, udah gak kehitung lagi. Dulu zaman bibi, masuk Syah, Bibi lewat belakang, malam-malam lagi, Masuk  hutan dulu baru ke penampungan, Itu juga pertama tinggalnya dekat kampung-kampung dekat lokasi perkebunan kepala sawit.  Kerja nya, ngebersih, sama metik buah sawit. Dengan sabar dari hari ke hari punya kawan penduduk asli sini, barulah, dapat IC (KTP), karena waktu itu ada kebijakan pemutihan. Baru pindah kerja tinggal dekat kota nih, kalau tak, se-umur-umur tinggal dekat hutan,.” Cerita bibi Potiyem..
Bibi Potiyem masih meneruskan ceritanya “Yah, sekarang Aisyah,.. tengoklah syukur Alhamdulillah, tinggal menikmati, coba kalau kita tinggal di kampung Madura sana, untuk makan tiga kali seharipun, masih mikir,  pusing setengah kepayang, sampai perut pun kembang-kempis Saking susahnya, untuk mencari jalan hidup ini. Belum tentu dapat pekerjaan, yang sorenya jadi duit. Nah kalau di Malaysia nih,  tergantung mau apa gak kita kerja, pekerjaan antri, yang penting mau kerja kasar-kasar dikit lah. Tapi kalau mau cari kerja kantoran yah susah. Yah inilah hidup, seperti banyak orang cakap. membutuhkan perjuangan, dan pengorbanan.
Memang Aisyah,. terkadang ada juga yang buat kacau, datang ke Malaysia nih. Itukan ulah orang kita juga, orang Indon, ada yang datang ke Malaysia, yang benar-benar mau kerja, tapi ada juga yang nakal, ingin cepat kaya, kerjanya merompak lah, begaduh lah, ganggu bini oranglah, kan bikin susah orang banyak, karena ulah satu orang, yang lain akhirnya ikut jadi korban, gara-gara  nila setitik rusak susu sebelanga, jadi rusak semuanya…..”
“Mestinya kita sadarlah, dan tau diri, udah kita numpang hidup di negeri orang. Jadi jangan buat ulah lagi. Kan kita juga yang susah, akhirnya kan pasti ada razia lagi. Banyak lagi anak-anak Indon yang kena razia, Yang gak punya dokumen lengkap,  mematikan pasport. Tapi biasanya, kalau udah ketangkap razia masuk lock-up lah (penjara), setelah tiga bulan baru nanti dibuanglah ke Tanjungpinang, tetangganya Batam, (penampungan Dinsos), setelah itu,  dari sana dipulangkan ke kampung asal masing-masing.
“Dan  terkadang banyak  juga Aisyah, orang kita Indon ini,  yang jadi mata-mata polisi, mereka tu  malas kerja berat, jadi kerjanya memata-matai orang Indon kepada polis, lalu orang itu ditangkap polis” papar Bibi Potiyem.
“Iyah kaah, bii,. ?” sela Aisyah.
“Wuh, bibi dulu pernah kena tangkap, saat sedang dalam mobil sedan, bersama empat  orang, kawan  bibi, waktu bibi masih bekerja di kantin, Coba gimana,..? police bisa tau mobil yang kita pakai (mobil jemputan), dan jam berapa, kita di jemput kerja. Tau-tau waktu kita di jalan, tiba-tiba saja di belakang mobil kita ada mobil, police, akhirnya kita disuruh berhenti. Dan dibawa lah kita ke balai police, kita di intrograsi, diancam. Tapi ujung-ujung kita disuruh bayar seorang seribu Ringgit Malaysia, untung tauke mau jamin. Tapi kami harus mengganti uang jaminan tauke  dengan cara potong gaji, setiap bulan, 200 ringgit” ungkap Bibi Potiyem.
“Nah itu macam, kerja orang kita juga, yang datang ke Malaysia. Tak mau kerja berat  mau jadi mata-mata police, pasti orang-orang yang dekat kitalah. Jadi banyak macam lah, cara  orang cari duit, cari makan ni, Syah,.. Syah,..! dalam hidup ini, ada orang  yang baik, ada juga yang  jahat. Ada yang malas, ada yang rajin, ada yang jujur, ada yang korupsi” kata bi Potiyem. (*)

1 komentar:

Ibu Surthy mengatakan...

Saya ibu surthy tki singapore saya hadir berkomentar di dalam blog ini,cuma ingin menceritakan kisah nyata,sekaligus mau mengucapkan banyak terima kasih kepada Mbah Sero,atas bantuannya semua hutang2 saya sudah pada lunas,nomor togel yang Mbah berikan lansung 4d bocoran singapore,syukur alhamdulillah tembus dapat kemenangan 800.juta,itu dalam bentuk uang indo,kemarin saya sangat bingun karna hutang banyak,syukur sekarang sudah senang tidak memikirkan hutang lagi,saya tidak akan melupakan bantuan Mbah,apa bila saya sudah pulang ke indo saya akan berkunjung kepondok Mbah untuk silatu rahmi,bagi saudarah2 yang lagi terlilit hutang jangan anda putus asa,kalau mau sukses seperti saya silahkan tlpn atau sms Mbah Sero di nomor O82~370~357~999 beliau seorang paranormal yang bisa di percaya,karna sudah memberikan bukti,ingat kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali,jadi giliran anda untuk membuktikannya terima kasih..