| Tugu Serangan 1 Maret |
| Kuda Lumping |
| Tari Serimpi Modifikasi barlatar Batik |
| MC yang membawakan acara, sambil membayol. |
Pertunjunkan seni, yang setiap moment dilaksanakan di sudut kota Jogyakarya, dengan tujuan untuk menghibur para wisatawan yang berkunjung ke sana.
Dalam dalam seminggu minimal tiga sampai enam kali pertunjukkan dilaksanakan, oleh sanggar-sanggar yang banyak terdapat di kota pelajar itu. Pertunjukan tersebut dilakukan secara bergantian dari satu sangga seni dengan seni lainnya.
Pada hari-hari liburan tertentu, terkadangan juga dihadiri oleh artis yang sudah ngetop dari ibukota. Atau arti yang sudah ngetop asal Jogyakarta.
Pertunjukkan seni tersebut selain diadakan oleh pihak pemerintah, dalam hal ini dinas Pariwisata juga diadakan oleh even organizer dari pihak swasta.
Bagi pengujung yang sempat hadir untuk menyaksikan Pertunjukan ini, tidaak dipungut bayaran alias gratis siapa saja boleh ikut menyaksikan pertunjukkan yang dilaksanakan tersebut.
Dalam partisipasi pengujung. Pengunjung Pertunjukkan seni itu juga diberi kesempatan untuk berjoget bersama dengan pasangan masing-masing atau dengan para penari yang tengah melaksanakan pertunjukan seni itu.
Tidak hanya pertunjukan kesenian dari Jawa saja yang dipertontonkan kepada pengjung di Alun-alun Tugu Serangan 1 Maret Jogyakarta itu. Namun pihak pengelola juga memperbolehkan kesenian dari luar daerah Jogya.
Kesenian Nusantara yang ikut berpatisipasi, dalam menampilkan atraksi kesenian, misalnya kesenian Tarling dari Jawa Barat, tari perang dari Nusa Tenggara, Tarian Kalimantan dan tari Melayu Serampang dua belas juga ikut meramaikan suasana Culture Show. Pertunjukan tersebut tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan Nusantara, maupun wisatawan Mancanegara yang berkunjung ke Jogyakarta.
Dari Pertunjukkan Culture Show itu, memberi multiplayer efek kepada pelaku ekonomi, kecil yang beraktifitas di seputaran jalan Molioboro sampai dengan simpang Tugu Serangan 1 Maret sampi alun-alun Jogyakarta, dari pedagangan asongan, bajigur, wedang jahe, sate dan lain-lainnya menghiasi pinggir jalan dan trotoar. ( Foto dan Narasi ; Haris Maloko).