Senin, 06 Juni 2016

MALAYSIA NEGERI HARAPAN Oleh ; ABDUL HARIS



Pengeras suara yang terdapat pada kabin pesawat terbang itu kembali berbunyi, diawali dengan bunyi nada,   ting.. tong… ting…..”Diberitahukan kepada seluruh penumpang,.. Dalam waktu tidak lama lagi  pesawat anda tumpangi, dari Surabaya dengan tujuan  pulau Batam,.. akan mendarat di  Bandara, Hang Nadim Batam, tepat pukul 15.15 wib. Tidak  ada perbedaan waktu antara Surabaya dan Batam,..!” demikian suara merdu yang keluar dari mulut pramugari cantik, saat pesawat akan landing di Bandara Hang Nadim Batam.
                Para penjemput pun sudah antri menunggu di ruang tunggu bandara, mereka bergegas, begitupun  juga, halnya dengan  para petugas Bandara, yang sedari tadi menunggu kedatangan  para penumpang dari berbagai jurusan.  Bandara yang digagas dan dirancang  oleh presiden Indonseia ke III, B.J. Habibie itu.  Mereka sudah bersiap untuk tugasnya masing-masing, dengan sikap stand by pada poskonya masing-masing.
Para petugas dari pihak intansi pemerintah kota Batam, yang  menempatkan pegawai dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mereka bertugas  mengawasi  kedatangan, para pendatang dari daerah lainnya di Indonesia, yang tiba di palau Batam. Hal itu dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk mencegah peledakan penduduk di kota  Batam, yang menurut pemerintah  Kota Batam, akan berdampak pada tingginya tingkat pengangguran, menekan angka tindak kejahatan, juga menghadang para gelandangan dan pengemis (Gepeng), serta Pekerja Seks Komersial (PSK), atau wanita panggilan.
                Jadi setiap orang yang datang ke Batam, akan terlihat sangat kentara sekali, bila dilihat   dari status sosialnya. Apakah dia seorang businessman ?, konglomerat, investor, birokrat, turis. Atau orang dari kampung yang akan menetap dan pindah ke Batam atau, mungkin  penduduk Batam yang sudah menetap lama di kota yang berdekatan dengan Singapore itu. Tidak dinafikan bahwa pendatang yang tiba di Batam, seperti halnya  cewek-cewek seksi, yang bekerja pada tempat-tempat hiburan malam di Batam. serta rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mereka itu mayoritas berasal  dari pulau  Madura, Flores, Nusa Tenggara Barat, atau dari pulua Jawa yang akan berangkat ke Malaysia melalui Batam, lalu menyeberang ke Malaysia.
                Para petugas di sana begitu mudah untuk dapat mengenali mereka,  jika mereka itu rombongan TKI akan sangat terlihat jelas dari penampilan mereka, biasanya  mereka berkelompok, dalam satu rombongan minimal lima belas orang, atau lebih. Mereka berbaur antara satu dengan lainnya, baik laki-laki maupun prempuan, gadis remaja, dan  anak muda tanggung.
Bahasa Indonesia yang mereka pakai terdengar dengan logat, dan gaya bahasa asal kampung halaman mereka, sangat khas sekali terdengar. Sehingga bagi penduduk Batam bila akan mengenali mereka, dan  dari mana asal orang-orang tersebut akan cepat mengetahuinya. Apalagi ketika dilihat dari cara dan gaya berpakaian, serta barang bawaan yang mereka jinjing, akan lebih mudah mengenali mereka.
Hal itu membuat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pun sudah sangat mengenali dan “hafal”, biasanya sudah ada seseorang yang mengkoordinir kedatangan mereka, para petugas kependudukan itu tidak  perlu, untuk  menayakan atau mewawancarai (interview) mereka satu per satu, hendak kemana tujuan mereka lagi, si petugas tinggal mencatat jumlah orangnya, dengan satu “kedip mata” sebagai tanda antara koordinatornya dan petugas itu, maka akan kecipratan “setoran”. lah para petugas itu.
Begitu juga halnya dengan petugas yang lainnya. Mereka pura-pura menegakkan disiplin, aturan, penegakan hukum, tapi ujung-ujungnya, duit,..! duit,..! duit,..! Om,..! acuh tapi butuh. Habis harus bagaimana lagi, para oknum petugas itu  semua butuh juga untuk “cari sampingan pemasukan”. disamping mereka sudah mendapatkan gaji, mereka juga mencari tambahan penghasilan, salah satunya dengan cara bekerjasama dengan para tekong TKI illegal  (TKI yang tidak memiliki izin kerja secara resmi dari pemerintah Negara yang dituju) itu
Untuk saat ini,  sangat sulit ditemui  petugas, yang mencari makan hanya untuk sebatas kebutuhan perut saja, tapi juga harus memikirkan anak isteri dan keluarga, berusaha untuk mencari kelebihan ; untuk beli rumah, atau membeli mobil, misalnya. Kalau berharap untuk tinggal di rumah dinas terus, itu akan membosankan  karena mereka menganggap bahwa rumah tersebut berukuran  kecil dan sempit. Dan terkadang ada yang pegawai  tidak mendapat fasilitas rumah dinas, alias masih ngontrak. Ada juga diantara mereka yang cari tambahan penghasilan untuk ditabung, guna persiapan  di hari tua, pada saat pensiun mereka masih ada kegiatan dengan cara  membuat usaha rumah kontrakan,  membeli tanah, atau uangnya di simpan dalam bentuk deposito di bank
                Tapi, ada juga koordinator, yang kucing-kucingan, dengan  pihak aparat, mereka tidak mau bekerja sama. Dari tindakan itu, berakibat kepada calon TKI-nya,  kasihan melihatnya, mereka tidak ada yang mengurus saat kedatangan mereka di Batam. Kalau calon TKI, medapat  koordinator akal-akalan dan kurang bertanggung jawab seperti ini, yang hanya mementingkan keuntungan uang semata, maka inilah  pertanda nasib TKI kurang beruntung, capek dibadan, kusut dipikiran.
                Akhirnya tujuan untuk berangkat ke Malaysia jadi tertunda, apalagi kalau ada razia, biasanya  para TKI ini lah yang ditahan lebih dulu, dibanding dengan koordinator atau kasarnya dapat disebut dengan “calo”nya. Bahkan, para koordinator tidak dapat me-lobby pihak aparat, resikonya masuk sel, dan dikembalikan ke kampung halaman mereka.
Kalau sudah begini, maka para TKI-lah yang  rugi,  sudah mengeluarkan  biaya, waktu, dan tenaga. Meskipun terkadang untuk biaya keberangkatan TKI itu, mereka sanggup cari utang-an dari para rentenir. Dan lebih parah lagi harta miliknya satu-satu yang ada pun ikut melayang, Dengan harapan agar  ada perbaikan hidup di masa depan. Atau dengan perjanjian, ketika nanti sampai di Malaysia baru dibayar hutangnya dengan cara  potong gaji.
                Terkadang jika disimak lebih seksama, perjuangan para TKI ini sangat berat.  Para pencari kerja di negeri seberang ini, ibarat makan  buah simalakama, dimakan mati emak, tidak dimakan mati bapak. Di dalam negeri  sendiri, mereka harus berhadapan dengan aparat penegak  hukum negeri sendiri, di negeri orang mereka juga harus berhadapan dengan aparat penegak hukum negara yang mereka tuju. Belum lagi, rintangan yang harus dihadapi para “mafia-mafia TKI” di sana. Yang tidak sedikit jumlahnya, sampai akhirnya para TKI  harus meneteskan air mata dan keringat menghadapi rintangan guna memperoleh pekerjaan di negeri orang.              
Tapi itulah prinsip  anak negeri ini, dengan hidup  yang pantang menyerah, demi hidup senang di masa depan, tinggal nasib lah yang akan bicara.  Perjuangan dan tenaga, telah di korban-kan, selagi  hayat masih dikandung badan. Dari pada hidup berpangku tangan, mengharap dan menadahkan tangan menunggu bantuan orang lain. Lebih baik berjuang dan berusaha di negeri orang. Bak kata pepatah lama “Kuda lari dapat diburu, nasib manusia siapa yang tahu ?” dengan upaya ini  mungkin dapat berubah nasib mereka dan jika selama ini masih dianggap salah, masih ada waktu untuk diperbaiki, yang penting terus berusaha.
                Terkadang ada rasa dendam di dalam sanubari para calon TKI itu yang tidak terungkapkan. Tidak bisakah,  manusia itu dalam menjalani hidup dapat berbagi dengan sesama ? jangan mentang-mentang melihat orang yang lemah, diperlakukan semena-mena, kasar,  tanpa belas kasihan, bahkan seakan-akan hina sekali dari pandangan mata mereka. Ada  yang sinis melihat, tingkah yang angkuh, terkadang diperlakukan tanpa berperasaan.
                Sebagai manusia sebenarnya, kita ini sama-sama hidup di muka bumi.  Apa yang tidak pernah kita buat. Saat manusia lahir,  kita sama-sama telanjang. Dan setelah manusia menjalani kehidupan di dunia ini, namun segalanya tidak ada yang kekal abadi, diantara kita semua yang diciptakan tuhan, ada awal, maka akan ada akhir, kenapa, terkadang manusia tak bisa berbagi, untuk bersikap lebih manusiawi dengan sesama.
Sesekali terbesit juga suatu doa kepada Tuhan “jangan sampai anak cucuku nanti, mengalami hidup yang sama seperti apa yang ku alami”, begitu kira-kira yang terucap dari dalam hati pak Mustakin, salah seorang TKI yang ikut dalam rombongan itu. Usianya sudah paruh baya, dalam usia yang sudah mencapai hitungan lima puluh lima tahun itu. Dirinya berencana akan bekerja pada sektor perkebunan kelapa sawit, di Malaysia. Saat dia menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya, waktu dirinya pertama kali berniat akan berangkat mengadu nasib di negeri orang, itu sekelumit kisah pak Mustakin,  lelaki asal pulau Madura yang berjuang untuk merubah nasib di negeri seberang.
Lain pula halnya apa yang terjadi pada diri seorang perempuan yang juga ingin merubah nasib di negeri jiran itu. Sebut saja namanya Aisyah, seorang  gadis manis, yang  masih  lugu. Aisyah  mengaku bahwa dirinya baru saja menyelesaikan pendidikan pada salah satu pondok pesantren di kampungnya. Pendidikan  yang ditempuhnya di pondok pesantren itu,  Tsnawiyah sederajat dengan sekolah lanjutan. Sejak keluar dari pondok pesantren Aisyah, belum memperoleh pekerjaan tetap. Maka untuk mengisi waktu luangnya, dia cari kesibukan sehari-hari dengan mengerjakan apa saja, agar tidak bosan di rumah. Namun Aisyah juga tidak lupa untuk membantu emaknya  di rumah.
Aisyah memiliki paman dan bibi yang sudah lama menetap di Malaysia. Paman dan bibi Aisyah sudah pernah mendaftar sebagai penduduk Malaysia, melalui program  pemutihan, yang dilaksanakan oleh kerajaan Malaysia. Jadi paman Aisyah yang bernama Sadimin  dan bibinya, yang bernama Potiyem, sudah memiliki Kartu tanda penduduk Malaysia, kalau di Malaysia disebut dengan IC (identity Card)  dengan memilik IC tersebut paman dan bibi Aisyah dapat hidup tenang, tanpa takut ketika dilakukan razia oleh  pihak  “Rela”  semacam pasukan sukarelawan yang terdapat di Indonesia, lingkup kerja Rela itu,  membantu kerajaan Malaysia dalam menertibkan para imigran dan pekerja  illegal di sana.
                Kalau kita di Indonesia, Rela  itu seperti,  Hansip/ Kamra, tapi Hansip di sana sepertinya lebih punya “gigi”, untuk soal keamanan wilayah. Apalagi saat bertugas dalam suatu pengerebakan terhadap para “pendatang haram” (illegal). Kelihatannya para Rela ini begitu senangnya dan bersemangat akan tugas yang diembannya itu. Semangat itu  menyala-nyala, saat mereka bertugas, bayangkan saja, dengan satu gertakan, ancaman, malah terkadang, intrograsi akan membuat para imigran dari Indonesia menjadi tersudut, jika sudah demikian halnya para pendatang dari Indonesia yang sudah tertangkap tidak ada hak untuk membela diri lagi.
                Sadimin dan Potiyem, sering menelpon Aisyah, untuk mengajak Aisyah  tinggal di Malaysia. Pekerjaan  Sadimin sebagai tukang yang membuat bangunan yang selalu mendapat kerja borongan dari kontraktor, pekerjaan membangun gedung (building). Sedangkan isterinya, membuka warung nasi (kedai nasi), yang menjual sarapan pagi, seperti nasi lemak, teh tarik, milo, nescafe. Pada siang dan malam harinya  Potiyem,  menyiapkan masakan nasi campur, masakan  ala Indonesia, tanpa masakan kari.
Kedai nasi Potiyem selalu ramai dikunjungi oleh pelanggannya,  mereka yang datang, rata-rata berasal dari Indonesia. Kedai Potiyem itu juga dijadikan sebagai tempat nongkrongnya bagi para pekerja, baik itu pekerja legal maupun yang illegal,  asal Indonesia, terutama mereka yang berasal dari daerah Madura, untuk sekedar makan nasi campur. Para pekerja itu biasanya mereka tinggal masih dalam satu kawasan (wilayah), di kawasan Bakar Batu,  Johor Bharu Malaysia,
                Sementara di suatu desa yang terletak di pulau Madura sana, banyak juga tetangga-tetangga Aisyah yang baru pulang dari Malaysia, tampak terlihat adanya  perubahan kehidupan mereka, dari gaya hidup, terlihat pada pergelangan tangan mereka sudah melilit seuntai gelang berlapis emas, begitu juga pada leher sudah bergelayutan kalung emas bermatakan mutiara. 
Dan tidak sedikit dari mereka yang pulang dari merantau dan bekerja di Malaysia dapat membangun rumah, atau membeli  sebidang tanah, ada juga yang dapat membeli  beberapa ekor sapi. Kalau didengar dari cara mereka berbicara pun sudah ada perubahan, terutama dari logat bicara sudah berubah. Kalau mereka berbicara dengan orang kampung, maka logat-logat Melayu Malaysia selalu keluar, diantara mereka  ada yang sudah tinggal bertahun-tahun di negeri jiran tersebut.
                Peristiwa yang terlihat di kampung itulah,  yang terkadang membuat hati Aisyah gelisah. Dari cerita yang di dengarnya, apakah itu  suka dan duka orang-orang  yang merantau di negeri jiran Malaysia. Tapi bagaimanapun juga Aisyah, sempat mengenyam pendidikan sekolah menengah. Dirinya sadar. Meskipun  hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri dia merasa lebih baik hidup di negeri sendiri, gumamnya dalam hati.
Aisyah yang sedikit banyak,  pernah mendapat pelajaran tentang kebangsaan,  pelajaran itu, masih segar dalam ingatannya, apa itu artinya nasionalisme, terkadang hal itu juga   yang membuat dirinya kecewa.  Idealisme, nasionalisme, tidak dapat ditukar dengan kesempatan kerja, tidak dapat menahan perut lapar, semua mesti bersaing, antara satu dangan yang lain, sungguh  ketatnya persaingan dalam hidup ini. 
                Tapi ada juga dari segelintir orang yang selalu bicara nasionalisme, berkoar-koar kemana-mana. Tapi hidupnya hanya mementingkan diri pribadi  dan kelompoknya, “merampok” sana-sini, dengan cara-cara yang halus, Maka seakan-akan ialah pahlawan kesiangan di negeri sendiri. Karena dia merasakan seenak-enak di negeri orang, takkan seenak di negeri sendiri. Perasaan, kebebasan, dan harga diri, terkadang cibiran pasti ada,  yang keluar dari mulut   penduduk negeri asli tempatnya tinggal.
-. “Orang Indon,.. cari makan di negeri orang,..susahkah awak, di negeri awak ?,.. apa kerja,..? apa awak punya pejabat,..? tak pandai urus awak punya  rakyat kah… ?”  
Kata-kata itu selalu terdengar dari orang Malaysia, ketika seorang TKI melamar suatu pekerjaan di sana.
                Waktu terus berjalan, akhirnya luntur juga pertahanan Aisyah, akan rasa nasionalisme, yang pernah dia pelajari di sekolahnya. Namun kini realitanya, demi tuntutan hidup, terutama jika dikaitkan dengan persoalan perut, karena perut ini, susah diajak kompromi. Kemudian Aisyah juga berpikir tentang masa depan.
Melihat orang tuanya sudah mulai tua renta, Aisyah juga memiliki adik sebanyak empat orang yang masih antri menunggu untuk dibiayai. Seperti untuk biaya pendidikan, dan makan sehari-hari. Sementara penghasilan orang tuanya dari  bertani dan menangkap ikan, semakin hari, bukan semakin meningkat dan berlipat ganda, tapi malah semakin berkurang, sedangkan biaya operasional untuk melaut atau bercocok tanam semakin hari semakin mahal.
                Peningkatan biaya kehidupan, diiringi dengan biaya yang meningkat pula, bahkan berlipat ganda, karena faktor   inflasi yang memprihatinkan, dibanding dengan mata uang  dollar yang bila di kurs-kan ke nilai tukar  rupiah sangat rendah, terkadang kurs dollar dan ringgit turun naik  tak menentu. Di kampung Aisyah harga kebutuhan pokok,  selalu naik, tak sebanding lurus dengan pendapatan yang diperoleh. Yang kaya semakin kaya, yang miskin  semakin terjepit. Jika dibandingkan waktu dulu dan sekarang, jika dulu uang seratus ribu dapat beli beras sekarung, namun sekarang,  cuma dapat setengah karung.
-. : “M’bok,.. m’bok tak iyeh, semakin melarat saja, hidup ini” keluh Aisyah dalam hati.
                Bibi Aisyah, Potiyem yang di tinggal di Malaysia  selalu  menghubungi Aisyah melalui telepon, biasaya bibi Aisyah menelpon ke nomor telepon tetangga sebelah rumah yang bernama pak Badrun. Badrun, salah seorang yang memiliki telepon genggam di kampungnya, pak Badrun, selalu setia,  memanggil Aisyah, setiap ada telepon dari bibinya yang ada di Malaysia.
                Namun dalam diam pak Badrun menaruh hati dengan Aisyah, untuk  dijadikan istrinya. Namun Badrun belum berani mengungkapkan isi hatinya. Karena Aisyah seorang gadis yang kurang terbuka terhadap laki-laki yang berusaha mendekati dirinya. Pikiran Aisyah hanya tertumpu pada kedua orang tuanya, dan   nasib adik-adiknya.
                Di Madura, entah sudah tradisi yang dianut oleh masyarakat Madura atau itu hanya sebagai mitos saja, biasanya gadis seusia Aisyah, sudah menggendong anak, minimal Aisyah kalau sudah dinikahkan sudah miliki anak  dua orang, pada usia yang sangat muda sekali anak perawan sudah cepat-cepat dinikahkan  oleh orang tua mereka. Tapi tidak jarang ada yang memutuskan untuk jadi janda muda, karena alasan perempuan di Madura  tak mau dimadu.
Akibat korban kesenangan kaum laki-laki di Madura untuk menikah lebih dari satu. Dan hobby gonta-ganti bini. Memang jodoh ada di tangan Tuhan, yang telah  ditentukanNya, ada orang yang kawin hanya sekali saja dalam seumur hidupnya, namun  ada juga  yang menikah lebih dari sekali, atau dua kali atau mungkin lebih dari itu, tapi ada juga yang tidak kawin-kawin. Tapi di Madura untuk kasus ini jarang terjadi.
-: “Hallo,.. hallo dengan siapa nih,..? Aisyah….ya?” terdengar suara bibi Aisyah dari ujung telepon,.
+. : “,.. engki,.. engki,.. bi,.. gimana kabar bibi,..” jawab Aisyah dengan penuh semangat  
-: “ Baik Aisyah,.. bibi selalu sibuk saja Syah,.. di kedai, cuma sendiri,. gak ada yang bantu, disini semua orang sibuk,..dan maunya hanya kerja di kilang (pabrik),.. susah cari orang yang mau kerja di kedai,  untuk bantu-bantu bibi masak”.
Masih dalam obrolan di telepon, Bibi Aisyah kembali menayakan kesedian Aisyah untuk berangkat ke Malaysia.
-: “Jadi gimana rencana Aisyah nak berangkat ke Malaysia,..? bolehlah Aisyah,..  bibi cakap betullah,.. bibi tak kan kecewakan  Aisyah,.. nanti kalau Aisyah sudah di Malaysia, ada kerja yang lebih bagus tak ape-apelah kerja di sana”. Cecar Bibi Aisyah 
+: Engki bi,.. Aisyah  jadi berangkat,.. jawab Aisyah singkat
-: “ Nah nanti Aisyah bibi kasih nomor telpon tekongnya,..Aisyah ikut saja itu rombongan tekong,..biasanya lewat Batam. Dari Batam baru nyeberang ke Malaysia,.. entar sampai di Malaysia langsung diantar ke alamat.  Oke..! yah Aisyah,.. siap-siap lah” terang bibi Aisyah
+:  “Engki bi,.. Jawab Aisyah mengiyakan, akan ajakan bibinya untuk merantau ke Malaysia.
-: “Nanti bibi,.. kirim ongkosnya”  ujar bibi Aisyah.
+:  “Engki,… Bi”,..
-: “Salam,….yah sama Aba,.. sama Mamak” pungkas bibi Aisyah
+: “ Engki bi,..“ jawab Aisyah mengakhiri pembicaraannya dengan bibinya  yang di Malaysia, sembari tangan Aisyah, menyodorkan telepon genggam Badrun, untuk dikembalikan kepadanya.
                Dorongan semangat datang, dari  kedua orang tua Aisyah,
-: “Yah udah, Aisyah,… kalau mau berangkat,.. Aba sama emak pun ikut senang  juga,.. ikut mendoakan,.. siapa tau disana,.. ada perubahan nasib,.. Aisyah lihat kan, Aba pun udah semakin tua,.. badan pun udah mulai sakit-sakitan, Sedangkan adikmu masih ada empat orang,.. yang semuanya siap  antri untuk, menunggu biaya  hidup sehari-hari  dan biaya sekolah. Aba dan emak  mu selalu  mendoakan buat, keselamatan,.. kebahagian,. dan kesejahteraan Aisyah ke depan” Ungkap Ayah Aisyah pada suatu malam sebelum keberangkatan Aisyah ke Malaysia.

AISYAH BERANGKAT KE MALAYSIA, Oleh ; Abdul Haris



            Berangkatlah Aisyah dari kampung halamannya,..!
-: “Selamat tinggal kampung halaman ku,.. “ gumamnya dalam hati.
Dengan sedikit derai air mata, perasaan berat menyelimuti hati Aisyah  untuk meninggalkan Abah dan emaknya, begitu juga dengan adik-adik Aisyah  yang ia cintai. Demi suatu tujuan dan cita-cita hidup di masa depan. Banyak pengalaman Aisyah, yang akan ia sampaikan, kepada bibi dan pamannya nanti ketika sesampainya Aisyah di Malaysia nanti.
Aisyah sempat menginap, beberapa malam  di rumah koordinator/ tekong,  yang ada di  Batam, karena  dirinya sesampai  di Batam, Aisyah belum bisa menyeberang ke Malaysia. mengingat situasi lagi “panas”,
-: “ Lagi ada razia besar-besaran di Malaysia,” kata seorang tekong, saat Aisyah berada di penampungan di Batam
Ditambah lagi ada kejadian sebuah boat yang membawa TKI illegal tenggelam di laut, Boat yang biasa membawa rombongan TKI illegal ( pendatang haram). Dengan tujuan dari Malaysia ke Batam lewat  jalur tak resmi, ( lewat pintu  belakang), dikarenakan boat tersebut terlalu sarat membawa penumpang, yang akan pulang ke Indonesia, sehingga hilang  kesimbangan kala ombak menghantam boat itu.
            Secara geografis, letak Batam dan Malaysia memang sangat strategis sekali,   antara pulau Batam dan Malaysia hanya dipisahkan oleh  selat, disamping  banyak teluk yang menjorok ke laut.   Sehingga, banyak  “pelabuhan tikusnya” (pelabuhan tidak resmi), untuk mendaratkan para TKI illegal yang akan berangkat ke Malaysia atau pulang dari Malaysia, hal ini memudahkan kerja para tekong untuk berkerja dan  menjadikan lahan bisnis bagi para pemilik boat pancung, (perahu kayu berukuran 25 kaki, yang dilengkapi oleh mesin tempel, dengan kelajuan yang cepat) untuk memberi jasa penyeberangan TKI yang izin tinggalnya sudah habis (over stay) di Malaysia, bahkan  para TKI itu sudah tak punya passport lagi. Namun ada juga yang sampai menikah di Malaysia lalu punya anak,  tanpa memliki selembar  dokumen resmi.
            Pekerjaan apapun, terkadang selalu membawa dampak dan resiko. Beginilah kejadian yang sering menimpa para penumpang boat pancung,  terkadang ada saja kejadian-kejadian di laut  yang diluar dugaan, seperti datangnya hempasan gelombang laut yang besar dan dahsyat, sehingga membuat boat pancung oleng dan terbalik. Terkadang datangnya petugas-petugas aparat polisi perairan  Malaysia. (Police DiRaja Malaysia). Itulah resiko-resiko yang harus  dihadapi oleh para TKI Ilegal, pada saat di negeri jiran maupun saat ingin pulang ke kampung halaman. Terkadang sampai-sampai nyawa jadi taruhannya.
            Sewaktu Aisyah di Batam sempat, ia mendengar kejadian, yang membuat merinding bulu kuduknya. Dan menambah seramnya suasana, sudahlah dalam ruangan di tempat penampungan udaranya panas, sehingga membuat jantung tambah berdebar saja. 
-          : “Ada  boat pancong TKI dari Malaysia, terbalik di laut,  korbannya bayi, perempuan, dan beberapa orang laki-laki” . Kata Ampong, salah seorang TKI yang beruntung selamat dari terjangan maut, dan  ganasnya gelombang
-          :” Semua barang bawaannya tiada tersisa satupun, hanyut dibawa arus, tinggal celana dalam di badan, untung chong, fase (duit),.. udah dikirim ke kampung,…gak aku bawa,.. kalau tak habislah hasil, kerjaku selama  lima tahun, di Malaysia hanyut di lautan,..” Begitulah cerita Ampong, sewaktu di penampungan, di Batam.

Ampong yang selamat dari maut di laut itu akhirnya kembali ke Madura, dengan memakai baju pemberian tekong, dan uang pinjaman untuk membeli tiket.
-: “Syukur-syukur masih,.. dilindungi pangeran,..selamat, (tuhan) ! aku pun udah pasrah. Untung aku dapat memegang sekeping papan, sambung Ampong menceritakan kisahnya di hadapan calon  TKI yang akan berangkat ke Malaysia.
            Mendengar cerita Ampong itu perasaan Aisyah semakin seram saja, membuat bulu kuduknya tambah merinding saja. Terbesit  rintihan dan doa, dalam hati nya yang dalam,..
-          : “Ya Allah,.. seberat itukah derita,.. yang mesti kami alami,.. di darat kami mesti berhadapan dengan para aparat negeri sendiri, di laut kami berhadapan dengan ganasnya gelombang, terkadang, nyawa juga yang mesti jadi taruhannya” gumam Aisyah dalam hati.
Keesokan harinya, jadi juga Aisyah menyeberang ke Malaysia, dengan menggunakan ferry  cepat, yang sudah disediakan, oleh jasa koordinator di Batam. Melewati pelabuhan Batam Centre, pelabuhan ini  khusus untuk memberangkatkan  dan mendaratnya TKI. Pelabuhan  Telaga Blungkur Malaysia, yang konon katanya pelabuhan tersebut, memang digunakan hanya khusus rombongan TKI, karena letaknya pun di pinggiran kota bagian Malaysia, kalau penumpang umum segan rasanya untuk  lewat pelabuhan tersebut. Karena letaknya terpencil jauh dari kota Johor Bharu. Sedangkan penumpang umum akan merasa gengsi, takut dikira petugas immigration, kita mau bekerja dan cari makan di negeri jiran Malaysia.  
            Setibanya Aisyah di Malaysia, dia langsung dijemput oleh orang yang diperintahkan  Bibi Aisyah, jadi Aisyah langsung diantar di alamat Bibinya di Malaysia. Saat makan malam, bersama Bibi dan  Pamannya, Aisyah sempat berkeluh kesah, seputar  pengalaman perjalanan.
-          : “Untung bi,.. Aisyah gak tertahan lama, di  penampungan,.. syukur Alhamdulillah,.. semua lancar,..waduh bi,.. bi,…kalau lama bisa stress,.. maklumlah kondisi  di penammpungan, tak  seenak di rumah  sendiri. Orangnya banyak lagi, tidurnnya bersusun, kayak, menjemur ikan asin. Ada perempuan,  ada laki-laki,  ditambah ada anak-anak,.. bayi lagi, kalau malam rewel, nangis terus, semua serba antri, makan antri, ke toilet antri,..ih,..kalau sempat seminggu aja pasti stress,..Aisyah” keluh Aisyah kepada Bibinya
Penampungan di Batam, yang ditempati Aisyah  tak ubahnya seperti  di posko penampungan bencana alam, saat suatu daerah sedang dilanda bencana, banjir atau gempa bumi. kayak cerita guru agama Aisyah dalam sejarah  Nabi Nuh yang dilanda banjir.  Sebetulnya  hutan  masih  lebat, tapi  begitu Tuhan kasih hujan tak berhenti-berhenti akhir banjir juga.  tapi Malaysia ada juga terdengarlah  berita-berita banjir sesekali, sudah hampir  macam  Jakarta  lah, Katanya ibukota negara, tapi kenapa Banjir terus, Banjir,  bocor,…bocor,.. bocor  bendungan, dan paritnya.  Habis campuran semennya kebanyakan pasir dari semennya, besi beton dipasang seasalnya, bendungannya satu tahun selesai dibangun, ambroel, bles, apalagi yang datang terjangan air bah.
            Kasihanlah,  orang  yang punya rumah bagus-bagus kena banjir, terkadang dia punya  alat  rumah tangga, elektronik, mobil  mewah  habis  teredam air bercampur lumpur, sedangkan orang yang kurang mampu kesadarannya membuang sampah pada tempatnya masih kurang lagi, seenaknya membangun rumah di bantaran kali. Begitu mau digusur susah sekali, mesti ribut-ribut dulu sama petugas.
Terkadang membuat serba salah. Begitulah situasi kehidupan di Indonesia, banyak orang yang mau hidup. Pindah ke kota tidak punya modal dan tempat, akhirnya tinggal di pinggir kali. Mau hidup bertahan di kampung kesempatan kerja susah. Pabrik-pabrik tak ada. Jadi tak ubah seperti orang  hidup segan mati tak mau.
-          : “Itulah payaahnya, bii,..”  kata Aisyah
+: “Di Indon tu, tak seronoklah, para  pejabatnya,  banyak  mikir kantong pribadi, tak berpikir panjang,  ke depannya, bagaimana, untuk  orang  banyak. Coba  Aisyah, tengok, kalau di Malaysia mana berani, pejabat melawan kerajaan, apalagi nak banyak korupsi” ungkap bibi Potiyem. Lalu disambungnya lagi
+ “Beda dengan  di Indon, ape pon boleh dia  nak  buat, korupsi, dia buatlah,  suka-suka  hati.  Kalau di Malaysia masih  ada rasa hormat  daulat tuan ku  raja. Jadi kalau  membangun  itu  dia  benar-benar buat kesejahteraan  rakyat banyak, jadi tak  berani macam-macam.
+ “Coba saja Aisyah tengok, parit di Malaysia, besarnya, lebar, dalamnya, bersih lagi, mana nak lawan parit  di Indon. Itu baru  soal parit saja Aisyah, udah jauh bedanya, bagaimana dengan pembangunan gedung-gedungnya ?” celoteh bi Potiyem kepada Aisyah.
Masih cerita bi Potiyem “Di Malaysia,.. nih, orang bangun  gedung pun teratur  rapi, ada banyak lorong-lorong untuk orang jalan, untuk orang rehat, duduk santai, ada taman. Jadi  orang boleh bual-bual, bercanda-canda, bersama keluarga. Soal jalan saja, tengok, dia punya jalan tol, di Malaysia motor boleh masuk tol, dikasih jalur sendiri, tak payah bayar lagi “ paparnya.
Lalau Aisyah menimpali cerita bi Potiyem,
-: “Itulah bii, waktu Aisyah mau berangkat ke Malaysia ini aja, kayaknya gimana, orang melihat, kami rombongan TKI, Kayak  direndahkan saja, kayak hina saja, petugas-petugasnya sinis lagi, kayak  di pelabuhan ape itu bii, di Batam”, taya Aisyah
+:”Pelabuhan, ape Syah ?,  Oh itu,  Batam Centre” timpal Bi Potiyem
-: “Kami  bayar pas pelabuhannya, sama tujuh  ringgit, beda dengan penumpang umum, tapi ruang tunggunya dibedakan kayak anak tiri, panas, tak ber AC,  yah,… aku kan punya hak juga sebagai WNI”. Cerita Aisyah mengisahkan pengalaman perjalannya kepada bibi Potiyem.
Ditambahkan lagi oleh Aisyah
“Sudah kita nak masuk cop paspor bayar juga, sama immigration, dan semua, cenek-bengeknya, Uang keamananlah,  itu tekong nya cakap, kalau kita tak bayar mana boleh nak keluar,  sebetulnya kita punya paspor  turis  lagi. Jadi semua yang kita bayar biaya sama tekong, Itu udah  termasuk  biaya-segala-galanya, yah yang termasuk, macam-macam duit siluman, tuh,..” kesal Aisyah dengan keadaan seperti yang dia alami. 
Masih cerita Aisyah lagi
“Kalau, biaya tiket saja sama transportasi, tak mahal sangat lah.  Itulah bii, waktu Aisyah cakap sama koordinator yang di Batam. Dia cakap, kenapa ada biaya lebih macam  tu, dia cakap, karena dia nak bagi sana-sini. Pejabat di pelabuhan Batam Centre nak dibagi. nanti pejabat di Malaysia kita nak bagi  juga, kalau tak begitu macam mana kita boleh  masuk? “ keluh Aisyah.
“Yang lebih gila lagi bii,..! sambung Aisyah. Ada yang masuk Malaysia pakai paspor lain  wajah,..”
+ : Wah, kok bisa, yaa,  Syah,  ? “  tanya bi Potiyeem.
-: “ Yah itulah bii, bii,  semua duit yang bicara,  di Indon kan, juga duit yang  di  tengok, di Malaysia juga duit yang ditengok, cuma  di Malaysia masih  mendingan  tak  conggok sangat “ jawab Aisyah kepada bibinya
+ : “Maka itulah, Aisyah, kesempatan kamu udah di Malaysia  ini, Jadi kita carilah  duit yang sebanyak-banyaknya. Orang pasti hormat sama kita Syah. Mereka pasti  senang,  di kampungpun macam tu juga,..! jadi kilauan duit dapat mengalahkan segala-galanya, terkadang harga diri, kehormatan, kesucian pun terkadang, dapat dijadikan taruhan untuk mencari duit” pungkas bibi Potiyem.
            Tak  terasa  makan malam pun  hampir usai, dengan masakan khas Indonesia campur Malaysia. Bibi Potiyem menjamu Aisyah dengan masakan bikinannya sendiri
“Wui,..! sedap sangat makan  malam  ini,  nasi campur beras jagung, ada  sambal codet belacan, rebus petai, sama  lalap terong, ikan bakar, sama ayam bakar, tambah masak kuah lemak santan kari, daging cincang”  ujar Aisyah.
“Wuh kalau soal makan Aisyah  tak usah takut,..!” kata bii, Potiyem, di Malaysia nih bahan makanan, semua ada, murah-murah lagi, pokoknnya makmur lah. Nanti Aisyah kalau balik  ke  Indon pasti udah kayak lumba-lumba,.. makanya rajin-rajin lah senam.” Ujar Bi Potiyem.,   serentak  mereka semua pada ketawa kecil, ha..ha..ha….
“Kalau cerita pengalaman masuk Malaysia, Aisyah,  waktu zaman bibi tidak ada yang menandingi,  bibi, hanya sama paman dululah, terasa benar masam, manis, dan pahit getir nya, derai air mata,..nih, sama keringat menetes, udah gak kehitung lagi. Dulu zaman bibi, masuk Syah, Bibi lewat belakang, malam-malam lagi, Masuk  hutan dulu baru ke penampungan, Itu juga pertama tinggalnya dekat kampung-kampung dekat lokasi perkebunan kepala sawit.  Kerja nya, ngebersih, sama metik buah sawit. Dengan sabar dari hari ke hari punya kawan penduduk asli sini, barulah, dapat IC (KTP), karena waktu itu ada kebijakan pemutihan. Baru pindah kerja tinggal dekat kota nih, kalau tak, se-umur-umur tinggal dekat hutan,.” Cerita bibi Potiyem..
Bibi Potiyem masih meneruskan ceritanya “Yah, sekarang Aisyah,.. tengoklah syukur Alhamdulillah, tinggal menikmati, coba kalau kita tinggal di kampung Madura sana, untuk makan tiga kali seharipun, masih mikir,  pusing setengah kepayang, sampai perut pun kembang-kempis Saking susahnya, untuk mencari jalan hidup ini. Belum tentu dapat pekerjaan, yang sorenya jadi duit. Nah kalau di Malaysia nih,  tergantung mau apa gak kita kerja, pekerjaan antri, yang penting mau kerja kasar-kasar dikit lah. Tapi kalau mau cari kerja kantoran yah susah. Yah inilah hidup, seperti banyak orang cakap. membutuhkan perjuangan, dan pengorbanan.
Memang Aisyah,. terkadang ada juga yang buat kacau, datang ke Malaysia nih. Itukan ulah orang kita juga, orang Indon, ada yang datang ke Malaysia, yang benar-benar mau kerja, tapi ada juga yang nakal, ingin cepat kaya, kerjanya merompak lah, begaduh lah, ganggu bini oranglah, kan bikin susah orang banyak, karena ulah satu orang, yang lain akhirnya ikut jadi korban, gara-gara  nila setitik rusak susu sebelanga, jadi rusak semuanya…..”
“Mestinya kita sadarlah, dan tau diri, udah kita numpang hidup di negeri orang. Jadi jangan buat ulah lagi. Kan kita juga yang susah, akhirnya kan pasti ada razia lagi. Banyak lagi anak-anak Indon yang kena razia, Yang gak punya dokumen lengkap,  mematikan pasport. Tapi biasanya, kalau udah ketangkap razia masuk lock-up lah (penjara), setelah tiga bulan baru nanti dibuanglah ke Tanjungpinang, tetangganya Batam, (penampungan Dinsos), setelah itu,  dari sana dipulangkan ke kampung asal masing-masing.
“Dan  terkadang banyak  juga Aisyah, orang kita Indon ini,  yang jadi mata-mata polisi, mereka tu  malas kerja berat, jadi kerjanya memata-matai orang Indon kepada polis, lalu orang itu ditangkap polis” papar Bibi Potiyem.
“Iyah kaah, bii,. ?” sela Aisyah.
“Wuh, bibi dulu pernah kena tangkap, saat sedang dalam mobil sedan, bersama empat  orang, kawan  bibi, waktu bibi masih bekerja di kantin, Coba gimana,..? police bisa tau mobil yang kita pakai (mobil jemputan), dan jam berapa, kita di jemput kerja. Tau-tau waktu kita di jalan, tiba-tiba saja di belakang mobil kita ada mobil, police, akhirnya kita disuruh berhenti. Dan dibawa lah kita ke balai police, kita di intrograsi, diancam. Tapi ujung-ujung kita disuruh bayar seorang seribu Ringgit Malaysia, untung tauke mau jamin. Tapi kami harus mengganti uang jaminan tauke  dengan cara potong gaji, setiap bulan, 200 ringgit” ungkap Bibi Potiyem.
“Nah itu macam, kerja orang kita juga, yang datang ke Malaysia. Tak mau kerja berat  mau jadi mata-mata police, pasti orang-orang yang dekat kitalah. Jadi banyak macam lah, cara  orang cari duit, cari makan ni, Syah,.. Syah,..! dalam hidup ini, ada orang  yang baik, ada juga yang  jahat. Ada yang malas, ada yang rajin, ada yang jujur, ada yang korupsi” kata bi Potiyem. (*)