Rabu, 27 April 2016

Lamakera di Ujung Solor


Dermaga, yang berkontruksi beton  telah dibangun di Lamakera. Flores Timor NTT




Desa Nelayan Lamakera, diantara bangunan Mesjid yang megah
 
Mentari pagi (sun rise) kala pagi memancar diantara pulau Adonara dan Solor. Flores Timor NTT.
 
Alat Transportasi bagi nelayan di Lamakera begitu penting bagi mereka, meskipun sampan ini tampak kecil namun dapat menaklukkan ikan Paus yang beratnya ratus ton, bagaiman cara ? mereka memiliki kiat tersendiri bagaimana cara mendapatkannya.
Salah seorang ibu nelayan yang sedang menanti kepulangan sang suami dari melaut.

Desa Lamakera, yang didiami oleh masyarakat nelayan yang bependuduk lebih dari 3500 kepala keluarga itu, Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan.
Sebagai daerah yang langsung berhadapan dengan lautan luas itu, nelayan di sana tidak pilih-pilih dalam menangkap ikan, dari ikan yang kecil, seperti Teri,  hingga ikan Tuna dan Paus, mereka tangkap.
Dengan berbekal perahu yang hanya berukuran kurang lebih 25 kaki itu, sanggup untuk menangkap seekor ikan Belelang (paus) yang ukurannya puluhan ton beratnya.
Ternyata nelayan Lamakera bila hendak berburu ikan Paus, pergi ke laut dengan puluhan perahu-perahu yang kecil itu. Satu diantara perahu itu sebagai perahu printis dimana sang penombak ada berada di dalamnya, yang betugas untuk menacapkan tempuling (tombak) yang akan ditancapkan dikepala ikan paus.
Kemudian dibiarkan hingga Ikan yang terlindung itu mati secara perlahan. Setelah dipastikan ikan berbobot puluhan ton itu mati, maka perahu penggiring akan menyeretnya  hingga ke pantai.
Tiba di pantai masyarakat desa nelayan Lamakera yang sudah menunggu akan membantu menyiangi ikan paus itu dan dibagi rata se-kampung, dan jika ada lebihnya, barulah mereka menjual di pasar Larantuka, bahkan sampai ke Kupang atau ke daerah lain, tentunya setelah ikan paus itu dikeringkan, biasanya  ikan paus yang besar itu potong kecil-kecil, kemudian dibakar dan pukul-pukul hingga menyerupai sabut lantas dimakan bersama dengan jagung titi (jagung yang pipihkan).
Foto & narasi : Haris Maloko

Tidak ada komentar: