Senin, 06 Juni 2016

MALAYSIA NEGERI HARAPAN Oleh ; ABDUL HARIS



Pengeras suara yang terdapat pada kabin pesawat terbang itu kembali berbunyi, diawali dengan bunyi nada,   ting.. tong… ting…..”Diberitahukan kepada seluruh penumpang,.. Dalam waktu tidak lama lagi  pesawat anda tumpangi, dari Surabaya dengan tujuan  pulau Batam,.. akan mendarat di  Bandara, Hang Nadim Batam, tepat pukul 15.15 wib. Tidak  ada perbedaan waktu antara Surabaya dan Batam,..!” demikian suara merdu yang keluar dari mulut pramugari cantik, saat pesawat akan landing di Bandara Hang Nadim Batam.
                Para penjemput pun sudah antri menunggu di ruang tunggu bandara, mereka bergegas, begitupun  juga, halnya dengan  para petugas Bandara, yang sedari tadi menunggu kedatangan  para penumpang dari berbagai jurusan.  Bandara yang digagas dan dirancang  oleh presiden Indonseia ke III, B.J. Habibie itu.  Mereka sudah bersiap untuk tugasnya masing-masing, dengan sikap stand by pada poskonya masing-masing.
Para petugas dari pihak intansi pemerintah kota Batam, yang  menempatkan pegawai dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mereka bertugas  mengawasi  kedatangan, para pendatang dari daerah lainnya di Indonesia, yang tiba di palau Batam. Hal itu dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk mencegah peledakan penduduk di kota  Batam, yang menurut pemerintah  Kota Batam, akan berdampak pada tingginya tingkat pengangguran, menekan angka tindak kejahatan, juga menghadang para gelandangan dan pengemis (Gepeng), serta Pekerja Seks Komersial (PSK), atau wanita panggilan.
                Jadi setiap orang yang datang ke Batam, akan terlihat sangat kentara sekali, bila dilihat   dari status sosialnya. Apakah dia seorang businessman ?, konglomerat, investor, birokrat, turis. Atau orang dari kampung yang akan menetap dan pindah ke Batam atau, mungkin  penduduk Batam yang sudah menetap lama di kota yang berdekatan dengan Singapore itu. Tidak dinafikan bahwa pendatang yang tiba di Batam, seperti halnya  cewek-cewek seksi, yang bekerja pada tempat-tempat hiburan malam di Batam. serta rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mereka itu mayoritas berasal  dari pulau  Madura, Flores, Nusa Tenggara Barat, atau dari pulua Jawa yang akan berangkat ke Malaysia melalui Batam, lalu menyeberang ke Malaysia.
                Para petugas di sana begitu mudah untuk dapat mengenali mereka,  jika mereka itu rombongan TKI akan sangat terlihat jelas dari penampilan mereka, biasanya  mereka berkelompok, dalam satu rombongan minimal lima belas orang, atau lebih. Mereka berbaur antara satu dengan lainnya, baik laki-laki maupun prempuan, gadis remaja, dan  anak muda tanggung.
Bahasa Indonesia yang mereka pakai terdengar dengan logat, dan gaya bahasa asal kampung halaman mereka, sangat khas sekali terdengar. Sehingga bagi penduduk Batam bila akan mengenali mereka, dan  dari mana asal orang-orang tersebut akan cepat mengetahuinya. Apalagi ketika dilihat dari cara dan gaya berpakaian, serta barang bawaan yang mereka jinjing, akan lebih mudah mengenali mereka.
Hal itu membuat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pun sudah sangat mengenali dan “hafal”, biasanya sudah ada seseorang yang mengkoordinir kedatangan mereka, para petugas kependudukan itu tidak  perlu, untuk  menayakan atau mewawancarai (interview) mereka satu per satu, hendak kemana tujuan mereka lagi, si petugas tinggal mencatat jumlah orangnya, dengan satu “kedip mata” sebagai tanda antara koordinatornya dan petugas itu, maka akan kecipratan “setoran”. lah para petugas itu.
Begitu juga halnya dengan petugas yang lainnya. Mereka pura-pura menegakkan disiplin, aturan, penegakan hukum, tapi ujung-ujungnya, duit,..! duit,..! duit,..! Om,..! acuh tapi butuh. Habis harus bagaimana lagi, para oknum petugas itu  semua butuh juga untuk “cari sampingan pemasukan”. disamping mereka sudah mendapatkan gaji, mereka juga mencari tambahan penghasilan, salah satunya dengan cara bekerjasama dengan para tekong TKI illegal  (TKI yang tidak memiliki izin kerja secara resmi dari pemerintah Negara yang dituju) itu
Untuk saat ini,  sangat sulit ditemui  petugas, yang mencari makan hanya untuk sebatas kebutuhan perut saja, tapi juga harus memikirkan anak isteri dan keluarga, berusaha untuk mencari kelebihan ; untuk beli rumah, atau membeli mobil, misalnya. Kalau berharap untuk tinggal di rumah dinas terus, itu akan membosankan  karena mereka menganggap bahwa rumah tersebut berukuran  kecil dan sempit. Dan terkadang ada yang pegawai  tidak mendapat fasilitas rumah dinas, alias masih ngontrak. Ada juga diantara mereka yang cari tambahan penghasilan untuk ditabung, guna persiapan  di hari tua, pada saat pensiun mereka masih ada kegiatan dengan cara  membuat usaha rumah kontrakan,  membeli tanah, atau uangnya di simpan dalam bentuk deposito di bank
                Tapi, ada juga koordinator, yang kucing-kucingan, dengan  pihak aparat, mereka tidak mau bekerja sama. Dari tindakan itu, berakibat kepada calon TKI-nya,  kasihan melihatnya, mereka tidak ada yang mengurus saat kedatangan mereka di Batam. Kalau calon TKI, medapat  koordinator akal-akalan dan kurang bertanggung jawab seperti ini, yang hanya mementingkan keuntungan uang semata, maka inilah  pertanda nasib TKI kurang beruntung, capek dibadan, kusut dipikiran.
                Akhirnya tujuan untuk berangkat ke Malaysia jadi tertunda, apalagi kalau ada razia, biasanya  para TKI ini lah yang ditahan lebih dulu, dibanding dengan koordinator atau kasarnya dapat disebut dengan “calo”nya. Bahkan, para koordinator tidak dapat me-lobby pihak aparat, resikonya masuk sel, dan dikembalikan ke kampung halaman mereka.
Kalau sudah begini, maka para TKI-lah yang  rugi,  sudah mengeluarkan  biaya, waktu, dan tenaga. Meskipun terkadang untuk biaya keberangkatan TKI itu, mereka sanggup cari utang-an dari para rentenir. Dan lebih parah lagi harta miliknya satu-satu yang ada pun ikut melayang, Dengan harapan agar  ada perbaikan hidup di masa depan. Atau dengan perjanjian, ketika nanti sampai di Malaysia baru dibayar hutangnya dengan cara  potong gaji.
                Terkadang jika disimak lebih seksama, perjuangan para TKI ini sangat berat.  Para pencari kerja di negeri seberang ini, ibarat makan  buah simalakama, dimakan mati emak, tidak dimakan mati bapak. Di dalam negeri  sendiri, mereka harus berhadapan dengan aparat penegak  hukum negeri sendiri, di negeri orang mereka juga harus berhadapan dengan aparat penegak hukum negara yang mereka tuju. Belum lagi, rintangan yang harus dihadapi para “mafia-mafia TKI” di sana. Yang tidak sedikit jumlahnya, sampai akhirnya para TKI  harus meneteskan air mata dan keringat menghadapi rintangan guna memperoleh pekerjaan di negeri orang.              
Tapi itulah prinsip  anak negeri ini, dengan hidup  yang pantang menyerah, demi hidup senang di masa depan, tinggal nasib lah yang akan bicara.  Perjuangan dan tenaga, telah di korban-kan, selagi  hayat masih dikandung badan. Dari pada hidup berpangku tangan, mengharap dan menadahkan tangan menunggu bantuan orang lain. Lebih baik berjuang dan berusaha di negeri orang. Bak kata pepatah lama “Kuda lari dapat diburu, nasib manusia siapa yang tahu ?” dengan upaya ini  mungkin dapat berubah nasib mereka dan jika selama ini masih dianggap salah, masih ada waktu untuk diperbaiki, yang penting terus berusaha.
                Terkadang ada rasa dendam di dalam sanubari para calon TKI itu yang tidak terungkapkan. Tidak bisakah,  manusia itu dalam menjalani hidup dapat berbagi dengan sesama ? jangan mentang-mentang melihat orang yang lemah, diperlakukan semena-mena, kasar,  tanpa belas kasihan, bahkan seakan-akan hina sekali dari pandangan mata mereka. Ada  yang sinis melihat, tingkah yang angkuh, terkadang diperlakukan tanpa berperasaan.
                Sebagai manusia sebenarnya, kita ini sama-sama hidup di muka bumi.  Apa yang tidak pernah kita buat. Saat manusia lahir,  kita sama-sama telanjang. Dan setelah manusia menjalani kehidupan di dunia ini, namun segalanya tidak ada yang kekal abadi, diantara kita semua yang diciptakan tuhan, ada awal, maka akan ada akhir, kenapa, terkadang manusia tak bisa berbagi, untuk bersikap lebih manusiawi dengan sesama.
Sesekali terbesit juga suatu doa kepada Tuhan “jangan sampai anak cucuku nanti, mengalami hidup yang sama seperti apa yang ku alami”, begitu kira-kira yang terucap dari dalam hati pak Mustakin, salah seorang TKI yang ikut dalam rombongan itu. Usianya sudah paruh baya, dalam usia yang sudah mencapai hitungan lima puluh lima tahun itu. Dirinya berencana akan bekerja pada sektor perkebunan kelapa sawit, di Malaysia. Saat dia menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya, waktu dirinya pertama kali berniat akan berangkat mengadu nasib di negeri orang, itu sekelumit kisah pak Mustakin,  lelaki asal pulau Madura yang berjuang untuk merubah nasib di negeri seberang.
Lain pula halnya apa yang terjadi pada diri seorang perempuan yang juga ingin merubah nasib di negeri jiran itu. Sebut saja namanya Aisyah, seorang  gadis manis, yang  masih  lugu. Aisyah  mengaku bahwa dirinya baru saja menyelesaikan pendidikan pada salah satu pondok pesantren di kampungnya. Pendidikan  yang ditempuhnya di pondok pesantren itu,  Tsnawiyah sederajat dengan sekolah lanjutan. Sejak keluar dari pondok pesantren Aisyah, belum memperoleh pekerjaan tetap. Maka untuk mengisi waktu luangnya, dia cari kesibukan sehari-hari dengan mengerjakan apa saja, agar tidak bosan di rumah. Namun Aisyah juga tidak lupa untuk membantu emaknya  di rumah.
Aisyah memiliki paman dan bibi yang sudah lama menetap di Malaysia. Paman dan bibi Aisyah sudah pernah mendaftar sebagai penduduk Malaysia, melalui program  pemutihan, yang dilaksanakan oleh kerajaan Malaysia. Jadi paman Aisyah yang bernama Sadimin  dan bibinya, yang bernama Potiyem, sudah memiliki Kartu tanda penduduk Malaysia, kalau di Malaysia disebut dengan IC (identity Card)  dengan memilik IC tersebut paman dan bibi Aisyah dapat hidup tenang, tanpa takut ketika dilakukan razia oleh  pihak  “Rela”  semacam pasukan sukarelawan yang terdapat di Indonesia, lingkup kerja Rela itu,  membantu kerajaan Malaysia dalam menertibkan para imigran dan pekerja  illegal di sana.
                Kalau kita di Indonesia, Rela  itu seperti,  Hansip/ Kamra, tapi Hansip di sana sepertinya lebih punya “gigi”, untuk soal keamanan wilayah. Apalagi saat bertugas dalam suatu pengerebakan terhadap para “pendatang haram” (illegal). Kelihatannya para Rela ini begitu senangnya dan bersemangat akan tugas yang diembannya itu. Semangat itu  menyala-nyala, saat mereka bertugas, bayangkan saja, dengan satu gertakan, ancaman, malah terkadang, intrograsi akan membuat para imigran dari Indonesia menjadi tersudut, jika sudah demikian halnya para pendatang dari Indonesia yang sudah tertangkap tidak ada hak untuk membela diri lagi.
                Sadimin dan Potiyem, sering menelpon Aisyah, untuk mengajak Aisyah  tinggal di Malaysia. Pekerjaan  Sadimin sebagai tukang yang membuat bangunan yang selalu mendapat kerja borongan dari kontraktor, pekerjaan membangun gedung (building). Sedangkan isterinya, membuka warung nasi (kedai nasi), yang menjual sarapan pagi, seperti nasi lemak, teh tarik, milo, nescafe. Pada siang dan malam harinya  Potiyem,  menyiapkan masakan nasi campur, masakan  ala Indonesia, tanpa masakan kari.
Kedai nasi Potiyem selalu ramai dikunjungi oleh pelanggannya,  mereka yang datang, rata-rata berasal dari Indonesia. Kedai Potiyem itu juga dijadikan sebagai tempat nongkrongnya bagi para pekerja, baik itu pekerja legal maupun yang illegal,  asal Indonesia, terutama mereka yang berasal dari daerah Madura, untuk sekedar makan nasi campur. Para pekerja itu biasanya mereka tinggal masih dalam satu kawasan (wilayah), di kawasan Bakar Batu,  Johor Bharu Malaysia,
                Sementara di suatu desa yang terletak di pulau Madura sana, banyak juga tetangga-tetangga Aisyah yang baru pulang dari Malaysia, tampak terlihat adanya  perubahan kehidupan mereka, dari gaya hidup, terlihat pada pergelangan tangan mereka sudah melilit seuntai gelang berlapis emas, begitu juga pada leher sudah bergelayutan kalung emas bermatakan mutiara. 
Dan tidak sedikit dari mereka yang pulang dari merantau dan bekerja di Malaysia dapat membangun rumah, atau membeli  sebidang tanah, ada juga yang dapat membeli  beberapa ekor sapi. Kalau didengar dari cara mereka berbicara pun sudah ada perubahan, terutama dari logat bicara sudah berubah. Kalau mereka berbicara dengan orang kampung, maka logat-logat Melayu Malaysia selalu keluar, diantara mereka  ada yang sudah tinggal bertahun-tahun di negeri jiran tersebut.
                Peristiwa yang terlihat di kampung itulah,  yang terkadang membuat hati Aisyah gelisah. Dari cerita yang di dengarnya, apakah itu  suka dan duka orang-orang  yang merantau di negeri jiran Malaysia. Tapi bagaimanapun juga Aisyah, sempat mengenyam pendidikan sekolah menengah. Dirinya sadar. Meskipun  hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri dia merasa lebih baik hidup di negeri sendiri, gumamnya dalam hati.
Aisyah yang sedikit banyak,  pernah mendapat pelajaran tentang kebangsaan,  pelajaran itu, masih segar dalam ingatannya, apa itu artinya nasionalisme, terkadang hal itu juga   yang membuat dirinya kecewa.  Idealisme, nasionalisme, tidak dapat ditukar dengan kesempatan kerja, tidak dapat menahan perut lapar, semua mesti bersaing, antara satu dangan yang lain, sungguh  ketatnya persaingan dalam hidup ini. 
                Tapi ada juga dari segelintir orang yang selalu bicara nasionalisme, berkoar-koar kemana-mana. Tapi hidupnya hanya mementingkan diri pribadi  dan kelompoknya, “merampok” sana-sini, dengan cara-cara yang halus, Maka seakan-akan ialah pahlawan kesiangan di negeri sendiri. Karena dia merasakan seenak-enak di negeri orang, takkan seenak di negeri sendiri. Perasaan, kebebasan, dan harga diri, terkadang cibiran pasti ada,  yang keluar dari mulut   penduduk negeri asli tempatnya tinggal.
-. “Orang Indon,.. cari makan di negeri orang,..susahkah awak, di negeri awak ?,.. apa kerja,..? apa awak punya pejabat,..? tak pandai urus awak punya  rakyat kah… ?”  
Kata-kata itu selalu terdengar dari orang Malaysia, ketika seorang TKI melamar suatu pekerjaan di sana.
                Waktu terus berjalan, akhirnya luntur juga pertahanan Aisyah, akan rasa nasionalisme, yang pernah dia pelajari di sekolahnya. Namun kini realitanya, demi tuntutan hidup, terutama jika dikaitkan dengan persoalan perut, karena perut ini, susah diajak kompromi. Kemudian Aisyah juga berpikir tentang masa depan.
Melihat orang tuanya sudah mulai tua renta, Aisyah juga memiliki adik sebanyak empat orang yang masih antri menunggu untuk dibiayai. Seperti untuk biaya pendidikan, dan makan sehari-hari. Sementara penghasilan orang tuanya dari  bertani dan menangkap ikan, semakin hari, bukan semakin meningkat dan berlipat ganda, tapi malah semakin berkurang, sedangkan biaya operasional untuk melaut atau bercocok tanam semakin hari semakin mahal.
                Peningkatan biaya kehidupan, diiringi dengan biaya yang meningkat pula, bahkan berlipat ganda, karena faktor   inflasi yang memprihatinkan, dibanding dengan mata uang  dollar yang bila di kurs-kan ke nilai tukar  rupiah sangat rendah, terkadang kurs dollar dan ringgit turun naik  tak menentu. Di kampung Aisyah harga kebutuhan pokok,  selalu naik, tak sebanding lurus dengan pendapatan yang diperoleh. Yang kaya semakin kaya, yang miskin  semakin terjepit. Jika dibandingkan waktu dulu dan sekarang, jika dulu uang seratus ribu dapat beli beras sekarung, namun sekarang,  cuma dapat setengah karung.
-. : “M’bok,.. m’bok tak iyeh, semakin melarat saja, hidup ini” keluh Aisyah dalam hati.
                Bibi Aisyah, Potiyem yang di tinggal di Malaysia  selalu  menghubungi Aisyah melalui telepon, biasaya bibi Aisyah menelpon ke nomor telepon tetangga sebelah rumah yang bernama pak Badrun. Badrun, salah seorang yang memiliki telepon genggam di kampungnya, pak Badrun, selalu setia,  memanggil Aisyah, setiap ada telepon dari bibinya yang ada di Malaysia.
                Namun dalam diam pak Badrun menaruh hati dengan Aisyah, untuk  dijadikan istrinya. Namun Badrun belum berani mengungkapkan isi hatinya. Karena Aisyah seorang gadis yang kurang terbuka terhadap laki-laki yang berusaha mendekati dirinya. Pikiran Aisyah hanya tertumpu pada kedua orang tuanya, dan   nasib adik-adiknya.
                Di Madura, entah sudah tradisi yang dianut oleh masyarakat Madura atau itu hanya sebagai mitos saja, biasanya gadis seusia Aisyah, sudah menggendong anak, minimal Aisyah kalau sudah dinikahkan sudah miliki anak  dua orang, pada usia yang sangat muda sekali anak perawan sudah cepat-cepat dinikahkan  oleh orang tua mereka. Tapi tidak jarang ada yang memutuskan untuk jadi janda muda, karena alasan perempuan di Madura  tak mau dimadu.
Akibat korban kesenangan kaum laki-laki di Madura untuk menikah lebih dari satu. Dan hobby gonta-ganti bini. Memang jodoh ada di tangan Tuhan, yang telah  ditentukanNya, ada orang yang kawin hanya sekali saja dalam seumur hidupnya, namun  ada juga  yang menikah lebih dari sekali, atau dua kali atau mungkin lebih dari itu, tapi ada juga yang tidak kawin-kawin. Tapi di Madura untuk kasus ini jarang terjadi.
-: “Hallo,.. hallo dengan siapa nih,..? Aisyah….ya?” terdengar suara bibi Aisyah dari ujung telepon,.
+. : “,.. engki,.. engki,.. bi,.. gimana kabar bibi,..” jawab Aisyah dengan penuh semangat  
-: “ Baik Aisyah,.. bibi selalu sibuk saja Syah,.. di kedai, cuma sendiri,. gak ada yang bantu, disini semua orang sibuk,..dan maunya hanya kerja di kilang (pabrik),.. susah cari orang yang mau kerja di kedai,  untuk bantu-bantu bibi masak”.
Masih dalam obrolan di telepon, Bibi Aisyah kembali menayakan kesedian Aisyah untuk berangkat ke Malaysia.
-: “Jadi gimana rencana Aisyah nak berangkat ke Malaysia,..? bolehlah Aisyah,..  bibi cakap betullah,.. bibi tak kan kecewakan  Aisyah,.. nanti kalau Aisyah sudah di Malaysia, ada kerja yang lebih bagus tak ape-apelah kerja di sana”. Cecar Bibi Aisyah 
+: Engki bi,.. Aisyah  jadi berangkat,.. jawab Aisyah singkat
-: “ Nah nanti Aisyah bibi kasih nomor telpon tekongnya,..Aisyah ikut saja itu rombongan tekong,..biasanya lewat Batam. Dari Batam baru nyeberang ke Malaysia,.. entar sampai di Malaysia langsung diantar ke alamat.  Oke..! yah Aisyah,.. siap-siap lah” terang bibi Aisyah
+:  “Engki bi,.. Jawab Aisyah mengiyakan, akan ajakan bibinya untuk merantau ke Malaysia.
-: “Nanti bibi,.. kirim ongkosnya”  ujar bibi Aisyah.
+:  “Engki,… Bi”,..
-: “Salam,….yah sama Aba,.. sama Mamak” pungkas bibi Aisyah
+: “ Engki bi,..“ jawab Aisyah mengakhiri pembicaraannya dengan bibinya  yang di Malaysia, sembari tangan Aisyah, menyodorkan telepon genggam Badrun, untuk dikembalikan kepadanya.
                Dorongan semangat datang, dari  kedua orang tua Aisyah,
-: “Yah udah, Aisyah,… kalau mau berangkat,.. Aba sama emak pun ikut senang  juga,.. ikut mendoakan,.. siapa tau disana,.. ada perubahan nasib,.. Aisyah lihat kan, Aba pun udah semakin tua,.. badan pun udah mulai sakit-sakitan, Sedangkan adikmu masih ada empat orang,.. yang semuanya siap  antri untuk, menunggu biaya  hidup sehari-hari  dan biaya sekolah. Aba dan emak  mu selalu  mendoakan buat, keselamatan,.. kebahagian,. dan kesejahteraan Aisyah ke depan” Ungkap Ayah Aisyah pada suatu malam sebelum keberangkatan Aisyah ke Malaysia.

2 komentar:

Ibu Surthy mengatakan...

Saya ibu surthy tki singapore saya hadir berkomentar di dalam blog ini,cuma ingin menceritakan kisah nyata,sekaligus mau mengucapkan banyak terima kasih kepada Mbah Sero,atas bantuannya semua hutang2 saya sudah pada lunas,nomor togel yang Mbah berikan lansung 4d bocoran singapore,syukur alhamdulillah tembus dapat kemenangan 800.juta,itu dalam bentuk uang indo,kemarin saya sangat bingun karna hutang banyak,syukur sekarang sudah senang tidak memikirkan hutang lagi,saya tidak akan melupakan bantuan Mbah,apa bila saya sudah pulang ke indo saya akan berkunjung kepondok Mbah untuk silatu rahmi,bagi saudarah2 yang lagi terlilit hutang jangan anda putus asa,kalau mau sukses seperti saya silahkan tlpn atau sms Mbah Sero di nomor O82~370~357~999 beliau seorang paranormal yang bisa di percaya,karna sudah memberikan bukti,ingat kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali,jadi giliran anda untuk membuktikannya terima kasih..

Unknown mengatakan...


Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatu.
Saya ingin berbagi cerita siapa tau bermanfaat kepada anda bahwa saya ini seorang TKI dari johor bahru (malaysia) dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar bpk hilary joseph yg dari hongkong tentan Mbah Suro yg telah membantu dia menjadi sukses. dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomer toto 6D dr hasil ritual beliau. dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.457.000 Ringgit selama 3X putaran beliau membantu saya, saya tidak menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini. dan ini semua berkat bantuan Mbah Suro,saya yang dulunya bukan siapa-siapa bahkan saya juga selalu dihina orang. dan alhamdulillah kini sekarang saya sudah punya segalanya,itu semua atas bantuan beliau.Saya sangat berterimakasih banyak kepada Mbah Suro atas bantuan nomer togel Nya.
Bagi anda yg butuh nomer togel mulai (3D/4D/5D/6D) jangan ragu atau maluh segera hubungi Mbah Suro di hendpone (+6282354640471) & ( 082354640471) insya allah beliau akan membantu anda seperti saya...